Mulai dari evakuasi korban kecelakaan, penyelamatan warga, pencarian orang, hingga menangkap ular, biawak, monyet, dan satwa liar yang mengancam keselamatan masyarakat.
“Walaupun alat kami terbatas, kami tidak pernah menolak laporan masyarakat. Ada laporan masuk melalui Damkar, kami langsung berangkat. Itu sudah menjadi kewajiban kami,” tegas Edy.
Kondisi armada juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Sebagian kendaraan pemadam sudah berusia puluhan tahun sehingga membutuhkan biaya perawatan yang tinggi.
“Kendaraan lama memang masih kami andalkan. Tapi kecepatannya tentu tidak seperti kendaraan baru. Meski begitu tetap kami pakai karena memang hanya itu yang ada,” katanya.
Damkarmat sebenarnya sudah mengusulkan penambahan armada kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Tidak hanya mobil pemadam, tetapi juga kendaraan rescue, ambulans, hingga mobil tangga (aerial ladder) untuk menjangkau kebakaran gedung bertingkat.
Selain armada, Edy juga mengusulkan tambahan lima hingga tujuh sopir kendaraan pemadam agar operasional lebih optimal.
Ia juga berharap pembangunan pos sektor baru di wilayah Wongsorejo dapat segera direalisasikan. Menurutnya, wilayah tersebut memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi sehingga membutuhkan pos pelayanan sendiri.
“Kami berharap ada perhatian lebih. Damkar ini pelayanan dasar. Ketika masyarakat membutuhkan, kami harus hadir secepat mungkin,” ujarnya.
Menurut Edy, memperkuat Damkar bukan sekadar membeli mobil atau menambah pegawai.
Lebih dari itu, kebakaran bisa menghanguskan rumah, tempat usaha, bahkan hasil kerja masyarakat yang dikumpulkan selama puluhan tahun hanya dalam waktu singkat. Karena itu, investasi pada Damkar sama artinya dengan investasi untuk melindungi keselamatan warga dan menjaga roda perekonomian Banyuwangi tetap berjalan.////////









