“Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang bisa ke sini,” kata Adam, wisatawan asal Republik Ceko.
Pengunjung asal Semarang, Ati, juga mengaku terkesan dengan kerukunan masyarakat Kemiren.
“Warganya rukun dan guyub. Masakannya juga lezat. Tadi sampai nambah dua kali,” ujarnya.
Sebelum makan bersama dimulai, masyarakat lebih dulu menggelar ritual Ider Bumi dengan mengarak barong mengelilingi desa. Barong diberangkatkan dari dua arah berbeda, timur dan barat, lalu bertemu di depan Balai Desa Kemiren.
Warga kemudian menggelar doa bersama untuk memohon keselamatan serta dijauhkan dari bencana dan penyakit.
Rangkaian tradisi juga diisi ritual mepe kasur serta Mocoan Lontar Yusup yang berlangsung semalam suntuk. Tradisi pembacaan naskah kuno mengenai kisah Nabi Yusuf tersebut dipercaya sebagai bentuk selamatan dan tolak bala.
Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin, mengatakan tradisi tersebut menjadi bentuk syukur masyarakat atas rezeki yang diterima selama setahun terakhir.
“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala,” katanya.










