Banyuwangi, seblang.com – Ketegangan geopolitik dunia akibat konflik Iran dengan koalisi AS-Israel yang memicu krisis energi global pada 2026 menjadi momentum lahirnya inovasi energi alternatif dari daerah. Di Banyuwangi, siswa SMK Gajah Mada berhasil menciptakan kompor berbahan bakar oli bekas dan minyak jelantah sebagai solusi hemat energi sekaligus ramah lingkungan.
Konflik di Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak tajam akibat terganggunya distribusi energi global. Dampaknya mulai dirasakan banyak negara, termasuk ancaman kenaikan harga bahan bakar dan LPG yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga.
Di tengah situasi tersebut, kreativitas pelajar Banyuwangi ini menarik perhatian karena menawarkan pemanfaatan limbah rumah tangga dan bengkel menjadi sumber energi alternatif yang murah. Hanya dengan 1 liter oli bekas atau minyak jelantah, kompor rakitan mereka mampu menyala selama 3 hingga 4 jam.
Guru pembimbing Jurusan Otomotif SMK Gajah Mada Banyuwangi, Rusianto, mengatakan ide pembuatan kompor muncul dari banyaknya limbah cair yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Padahal limbah oli maupun minyak jelantah masih bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif. Jadi selain mengurangi pencemaran lingkungan, juga bisa membantu masyarakat menghemat biaya energi,” ujar Rusianto.
Menurutnya, inovasi tersebut juga berangkat dari kekhawatiran terhadap ketergantungan masyarakat pada LPG. Ketika dunia menghadapi ancaman krisis energi akibat konflik geopolitik, masyarakat perlu memiliki alternatif energi yang mudah diperoleh dan murah.
“Maka ini bisa menjadi solusi alternatif bagi rumah tangga maupun UMKM kuliner. Meski menggunakan bahan bakar oli bekas dan jelantah, tidak mempengaruhi rasa masakan dan tidak menimbulkan bau,” katanya.
Kompor tersebut dibuat menggunakan bahan sederhana seperti pipa besi, blower, keran pengatur bahan bakar, dan kaleng pemanas. Sebelum digunakan, kompor dipanaskan secara manual sekitar lima menit, kemudian bahan bakar dialirkan dan blower dinyalakan untuk mengatur besar kecil api.
Selain digunakan sendiri, pihak sekolah juga mulai menerima pesanan dari masyarakat dan pelaku UMKM dengan harga yang relatif terjangkau.
“Inovasi ini masih terus kami sempurnakan agar lebih aman dan efisien digunakan masyarakat luas,” kata Rusianto.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut mengapresiasi inovasi tersebut saat kegiatan Bunga Desa di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari.
Menurut Ipuk, kreativitas seperti ini menunjukkan bahwa pelajar daerah mampu menjawab tantangan global melalui inovasi sederhana yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.
“Ini ide kreatif supaya masyarakat tidak hanya bergantung pada LPG. Apalagi di tengah kondisi dunia yang tidak menentu, kita memang perlu mulai memikirkan energi alternatif dari lingkungan sekitar,” ujar Ipuk.
Ia berharap inovasi tersebut terus dikembangkan sehingga bisa diproduksi massal dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk menciptakan teknologi tepat guna yang berdampak bagi masyarakat. (*)










