Puluhan Warga Kerauhan dalam Ritual Keboan Aliyan, Tradisi Sakral Warisan Leluhur Banyuwangi

by -13 Views
Wartawan: M Yudi Irawan
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Suasana sakral sekaligus penuh daya tarik mewarnai pelaksanaan Ritual Keboan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Minggu (21/6/2026). Dalam prosesi adat yang digelar setahun sekali tersebut, puluhan warga mengalami kerauhan dan bertingkah layaknya kerbau di tengah jalan desa yang disulap menyerupai area persawahan.

Dengan mata memerah, sebagian warga yang kerauhan tampak menjerit, berguling-guling, hingga menceburkan diri ke kubangan lumpur yang sengaja dibuat sebagai bagian dari ritual. Jalan-jalan desa dihiasi penjor dari janur kuning serta poro bungkil yang dipenuhi aneka hasil bumi, menambah semarak tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Satu per satu warga yang mengalami kerauhan didampingi sanak saudara mereka. Air bersih disiapkan untuk membersihkan wajah para “manusia kerbau” yang berkubang di lumpur selama prosesi berlangsung.

Prosesi semakin semarak saat alunan gamelan khas Keboan mengiringi warga yang kerauhan menjalani rangkaian ritual adat. Mereka mengikuti arak-arakan bersama visualisasi Dewi Sri yang berada di atas kereta kencana berhias hasil bumi, mengelilingi kampung sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.

Menurut Pak Mudin, sesepuh Desa Aliyan dari Dusun Sukodono, kerauhan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Ritual Keboan yang digelar setiap Bulan Suro.

“Ritual ini dilaksanakan satu kali dalam setahun tepat pada Bulan Suro. Ini merupakan tradisi masyarakat untuk ngalap berkah kepada Sang Maha Kuasa karena atas karunia-Nya hasil tanaman warga bisa melimpah,” ujarnya.

Rangkaian ritual diawali dengan kenduri dan doa bersama yang diikuti seluruh warga desa. Tak lama setelah doa berlangsung, satu per satu warga mulai mengalami kerauhan. Beberapa di antaranya kemudian diarak mengelilingi kampung sambil membawa perlengkapan membajak sawah sebagai simbol aktivitas pertanian masyarakat pada masa lampau.

Prosesi tersebut diakhiri dengan ritual menebar benih padi atau yang dikenal dengan istilah ngurit.

Bagian ini menjadi salah satu momen yang paling ditunggu masyarakat. Benih-benih padi yang ditebar dipercaya memiliki keberkahan tersendiri. Saat prosesi berlangsung, benih tersebut dikawal puluhan warga yang sedang kerauhan dan bertingkah layaknya kerbau.

Masyarakat meyakini siapa pun yang berhasil memperoleh benih tersebut akan mendapatkan keberkahan dan hasil panen yang melimpah. Namun, mendapatkan benih itu bukan perkara mudah. Para pemburu benih harus berhadapan dengan warga yang kerauhan dan menjaga jalannya ritual.

Pak Mudin menuturkan, tradisi Keboan berawal dari kisah leluhur Desa Aliyan ketika wilayah tersebut dilanda wabah yang dikenal dengan sebutan kresek atau paceklik beberapa abad silam.

Saat itu, Buyut Wongso Kenongo yang dipercaya sebagai leluhur Desa Aliyan memanjatkan doa kepada Sang Maha Pencipta agar masyarakat dibebaskan dari wabah penyakit yang melanda desa.

Konon, dua anak Buyut Wongso Kenongo kemudian bertingkah layaknya kerbau dan berguling-guling di area persawahan. Perilaku yang dianggap tidak biasa tersebut dipercaya menjadi titik awal berakhirnya wabah yang selama ini menghantui masyarakat.

Sejak saat itu, masyarakat kembali dapat mengolah sawah dan memperoleh hasil panen yang melimpah. Dari perilaku kedua anak Buyut Wongso Kenongo itulah kemudian lahir tradisi yang kini dikenal sebagai Ritual Keboan Aliyan.

“Ritual ini selain sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah, juga sebagai selamatan desa agar masyarakat senantiasa berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa serta memperoleh keberkahan,” pungkas Pak Mudin.///////

iklan warung gazebo