Jember, seblang.com – Polemik penataan Pasar Tanjung Jember memasuki babak baru setelah ratusan pedagang, warga, dan mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa (22/9/2026).
Aksi tersebut menjadi lanjutan dari demonstrasi yang digelar sepekan sebelumnya. Kali ini, massa tidak hanya menyampaikan tuntutan di depan kantor pemerintah daerah, tetapi juga mendapat kesempatan berdialog langsung dengan Bupati Jember Muhammad Fawait.
Fawait menemui massa yang datang ke pendapa, kemudian mengajak perwakilan pedagang dan mahasiswa masuk ke aula untuk membahas persoalan Pasar Tanjung secara langsung. Pertemuan itu menjadi ruang bagi pedagang dari area pasar atas dan bawah, warga sekitar, serta mahasiswa untuk menyampaikan persoalan masing-masing.
Sejumlah masalah dibicarakan dalam forum tersebut, mulai dari aktivitas pedagang di badan jalan, kondisi pedagang di dalam pasar, akses warga, lalu lintas Jalan Samanhudi, hingga rencana penataan kawasan.

Bagi pemerintah daerah, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut ketertiban kawasan, tetapi juga berkaitan dengan penghidupan pedagang. Karena itu, Fawait mengatakan solusi harus dicari dengan mempertemukan kepentingan berbagai pihak.
“Yang pertama, ini memenuhi janji saya seminggu yang lalu. Saya datang ke Pasar Tanjung dan akan menindaklanjuti apa-apa yang menjadi solusi untuk keberlanjutan Pasar Tanjung,” kata Fawait saat dikonfirmasi usai menemui ratusan massa aksi.
Ia menyebut pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi pedagang yang berjualan di dalam maupun di luar pasar untuk menyampaikan pandangan secara langsung. Menurutnya, perbedaan pendapat tetap dapat diselesaikan tanpa menghilangkan kerukunan antarpedagang.
“Boleh beda pendapat, tapi mereka sama-sama menjaga kerukunan,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang mengemuka adalah keberadaan pedagang di kawasan Jalan Samanhudi. Bagi sebagian pedagang, aktivitas di bawah berkaitan dengan mata pencaharian. Namun bagi warga sekitar dan pedagang di area pasar, penggunaan jalan sebagai tempat berjualan dinilai menimbulkan persoalan tersendiri.
Korlap aksi Muhammad Faizin mengatakan tuntutan GMNI bersama warga tidak bertujuan menghilangkan mata pencaharian pedagang. Menurut dia, yang perlu dibenahi adalah fungsi setiap kawasan agar pedagang dan warga sama-sama mendapatkan kepastian.
“Harapan kami, seperti yang diharapkan oleh pedagang, seperti yang diharapkan oleh warga, Jalan Samanhudi kita kosongkan, terkhusus pikap-pikap yang menghalangi akses warga, akses pertokoan, akses pembeli untuk bisa naik ke penjual di atas,” kata Faizin.
Faizin juga menyoroti keluhan warga di sekitar Jalan Samanhudi yang disebut berada di RW 9, 10, dan 11. Ia mengatakan warga mengeluhkan akses keluar-masuk rumah, kondisi kebersihan, hingga kesulitan ketika kendaraan darurat harus melintas.
Karena itu, ia mengusulkan agar kendaraan pengangkut barang tetap diperbolehkan masuk ke kawasan tersebut hanya untuk kegiatan bongkar muat, bukan untuk berjualan secara menetap.
“Boleh kalau kargo untuk apa? Bongkar muat sementara,” ujarnya.
Persoalan lalu lintas kemudian menjadi salah satu titik temu antara pemerintah dan massa aksi. Pemkab Jember menyiapkan uji coba rekayasa lalu lintas di Jalan Samanhudi sebagai bagian dari penataan kawasan Pasar Tanjung. Rencana uji coba tersebut juga telah diberitakan sebagai salah satu hasil pertemuan Fawait dengan pedagang dan mahasiswa pada Selasa.
Selain lalu lintas, pemerintah daerah menyetujui pembentukan satuan tugas gabungan untuk mengawal penataan Pasar Tanjung. Satgas tersebut dirancang melibatkan unsur pemerintah, pedagang, serta masyarakat sekitar.










