Kali ini, Banyuwangi kembali dipilih sebagai lokasi pembelajaran nasional. Selama dua hari, 3-4 Juni 2026, peserta lokakarya akan menyusun strategi peningkatan akses dan kualitas layanan pengembangan anak usia dini yang inklusif dengan menjadikan Banyuwangi sebagai contoh praktik baik.
“Kami hadirkan berbagai sektor untuk bekerja sama dengan fokus pada pendidikan anak usia dini yang inklusif, intervensi kesehatan anak usia dini, serta dukungan bagi anak-anak dan keluarga mereka. Dalam hal ini kami menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus praktik baiknya,” ujar Ami.
Peserta juga dijadwalkan melakukan observasi langsung ke sekolah model dan puskesmas untuk melihat implementasi layanan inklusif yang telah berjalan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut positif kepercayaan yang diberikan Perkins International. Menurutnya, Banyuwangi siap menjadi living lab atau laboratorium pembelajaran bagi pengembangan kebijakan anak usia dini dan disabilitas.
“Kami senang Perkins menggelar kegiatan ini di Banyuwangi. Kami sangat mendukung dan siap menjadi living lab untuk kegiatan ini. Semoga lancar, dan bisa menghasilkan rencana aksi yang bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan pengembangan anak usia dini di tingkat nasional maupun daerah, khususnya Banyuwangi,” kata Ipuk.
Saat ini Banyuwangi telah menerapkan sekolah inklusi yang mewajibkan seluruh sekolah menerima siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, daerah tersebut juga memiliki berbagai program ramah disabilitas, termasuk Festival Kita Bisa dan penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) untuk identifikasi dini hingga sistem rujukan penyandang disabilitas. (*)











