Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pandangannya mengenai risiko masuknya kepentingan tertentu ke dalam gerakan, bukan angka yang telah terverifikasi secara independen.
Sementara itu, Muhammad Fakhrurrozi dari Kawal Keadilan Yogyakarta mengangkat persoalan posisi aktivis dalam hubungannya dengan kekuasaan.
Menurutnya, perdebatan mengenai aktivis yang memilih masuk ke partai politik perlu dilihat lebih jauh dari sekadar pilihan berada di dalam atau di luar pemerintahan.
Hal yang lebih penting, kata dia, adalah menjaga konsistensi nilai dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Ruang politik, baik di dalam maupun di luar kekuasaan, tetap membutuhkan orang-orang yang mampu mempertahankan prinsip perjuangan.
Pandangan mengenai pentingnya solidaritas juga disampaikan Saiful Amin dari Sekitar Institut Kediri. Ia membagikan pengalamannya menghadapi tekanan setelah peristiwa Agustus 2025, termasuk pengakuannya pernah dijemput dari tempat kontrakannya sekitar pukul 02.00 dini hari.
Pengalaman tersebut mendorongnya untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan sesama aktivis yang memiliki pengalaman serupa. Baginya, jejaring dan kesadaran kolektif merupakan modal penting ketika masyarakat sipil berhadapan dengan kekuasaan.
“Kesadaran saya datang ke sini karena ingin berkawan dengan kawan-kawan yang sepenanggungan dan sadar bahwa kekuasaan tidak bisa dihadapi oleh segelintir orang,” ungkap Saiful.
Melalui kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, PAR Alternatif Indonesia berupaya menyediakan ruang perjumpaan bagi organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan kelompok gerakan sipil. Pertemuan lintas organisasi ini diharapkan membuka kesempatan bagi peserta untuk bertukar pengalaman, memperluas perspektif, sekaligus membangun kerja sama dalam merespons persoalan masyarakat.
Andi menegaskan, pendidikan politik tidak seharusnya berhenti pada diskusi atau pertemuan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta perlu diterjemahkan menjadi kesadaran, integritas, serta keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial dan politik.
Ia berharap Jember dapat berkembang menjadi salah satu ruang tumbuh gerakan anak muda di kawasan Tapal Kuda. Dengan kapasitas yang lebih kuat, integritas yang terjaga, dan solidaritas lintas organisasi, anak muda diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam memperjuangkan kepentingan publik.
“Saya berharap betul bahwa Jember adalah hak dari Tapal Kuda. Berkuasalah karena ide tidak bisa dititipkan,” tegasnya.
Selain Andi Saputra, Jorgiana Augustine, Muhammad Fakhrurrozi, dan Saiful Amin, kegiatan tersebut juga menghadirkan Donny Ardyanto dari Kurawal Foundation sebagai narasumber.
Keterlibatan sejumlah pegiat dari latar belakang berbeda menjadi bagian dari upaya mempertemukan gagasan dan pengalaman gerakan sipil dalam membangun gerakan anak muda yang lebih tangguh dan berkelanjutan.//////










