Jember, seblang.com – Penguatan kapasitas, integritas, dan solidaritas lintas organisasi menjadi perhatian utama dalam kegiatan Pendidik Politik #2 Tahun 2026 yang digelar PAR Alternatif Indonesia di Kabupaten Jember, 23–25 Oktober 2026.
Forum ini mempertemukan ratusan anak muda dari Jember dan sejumlah daerah lain untuk merefleksikan tantangan gerakan masyarakat sipil serta membangun jejaring perjuangan lintas kota.
Direktur Eksekutif PAR Alternatif Indonesia, Andi Saputra, menilai gerakan anak muda masih menghadapi persoalan mendasar yang perlu diselesaikan bersama.

Selain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, integritas aktivis dan kemampuan menjaga keberlanjutan gerakan menjadi faktor penting dalam memperjuangkan kepentingan publik.
Menurut Andi, gerakan masyarakat sipil tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk menyuarakan kritik. Aktivis juga membutuhkan pemahaman terhadap persoalan sosial dan hukum, kejujuran dalam bersikap, serta daya tahan menghadapi berbagai tekanan.
“Bagaimana kita menambah kapasitas, integritas, dan menyatukan antarelemen serta gerakan yang ada di Jember. Kita juga harus memiliki resiliensi,” ujar Andi saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Jember, Sabtu (24/10/2026) malam.
Ia menilai perbedaan latar belakang organisasi semestinya tidak menjadi penghalang bagi anak muda untuk membangun kerja sama. Sebaliknya, kesamaan nilai dan keberpihakan terhadap masyarakat perlu menjadi dasar untuk mempertemukan berbagai kelompok gerakan.
“Melawan oligarki dan penindasan. Jangan lihat warna, tetapi value atau nilai yang diperjuangkan,” katanya.
Persoalan solidaritas tersebut turut menjadi pembahasan dalam pembukaan kegiatan bertajuk Temu Politik Anak Muda yang berlangsung di Coffee Cord, Kecamatan Sumbersari, Jember itu. Forum ini menghadirkan sejumlah aktivis dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman dan pandangan mengenai hubungan gerakan sipil dengan kekuasaan.
Jorgiana Augustine dari Bareng Warga Jakarta menyoroti kerentanan gerakan demonstrasi ketika kepentingan politik diduga memengaruhi mobilisasi massa. Ia mengingatkan bahwa aktivis muda perlu kritis dalam membaca dinamika gerakan agar tidak menjadi korban kepentingan pihak tertentu.
“Semua dari kita ini ada harganya,” ujar Jorgiana dalam forum tersebut.
Ia juga menyinggung pengalaman penangkapan dan penahanan aktivis setelah rangkaian demonstrasi pada Agustus 2025. Jorgiana menyebut adanya angka yang menurutnya berkaitan dengan transaksi dalam dinamika aksi, termasuk klaim mengenai nilai Rp38 juta di Jawa Timur dan Rp200 juta untuk demonstrasi berskala kecil di Jakarta.










