“Tradisi ini sangat menarik. Sangat indah,” kata Roman.
Roman bersama rombongan berada di Banyuwangi selama tiga hari. Mereka mengunjungi sejumlah destinasi wisata sekaligus menikmati suasana dan keindahan alam kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Bagi Pemkab Banyuwangi, kemeriahan Endhog-Endhogan bukan sekadar perayaan keagamaan. Tradisi ini juga menjadi ruang untuk mempertahankan budaya lokal yang telah melekat dalam peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi.
“Endhog-endhogan sudah menjadi tradisi Maulid di Banyuwangi. Kegiatan ini bagian dari menjaga tradisi tersebut,” ujar Ipuk.
Menurutnya, tradisi tersebut juga mengandung pesan tentang kebersamaan dan berbagi. Telur yang dibawa dalam pawai kemudian dibagikan kepada masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalan.
“Ini bagian dari konsep berbagi. Serta ruang untuk mempererat kebersamaan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai unsur yang terlibat dalam perayaan,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan sebelumnya diawali dengan pengajian dan selawatan di Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Setelah itu, ribuan peserta mengikuti pawai dengan membawa jodhang dan berbagai kreasi kembang endhog hingga finis di Kantor Bupati Banyuwangi./////////











