Tekanan Ekonomi dan Keamanan
Selain persoalan lingkungan, tekanan ekonomi juga masuk dalam daftar perhatian masyarakat. Harga kebutuhan pokok menjadi salah satu persoalan yang cukup banyak disebut responden.
PSC mengaitkannya dengan kondisi ekonomi pada pertengahan 2026, termasuk fluktuasi harga BBM, nilai tukar rupiah, serta perubahan harga sejumlah kebutuhan masyarakat.
Persoalan keamanan menjadi isu kelima yang mendapat perhatian. PSC menyebut tingginya pembahasan mengenai pencurian, pencurian kendaraan bermotor, dan begal di ruang digital sebagai salah satu indikator perhatian publik.
Namun, laporan tersebut menegaskan bahwa indikator dari penelusuran digital tidak dapat digunakan untuk menggambarkan jumlah kriminalitas sebenarnya.
Deni mengatakan lima persoalan tersebut tidak cukup ditangani melalui kebijakan sektoral secara terpisah. Menurutnya, persoalan transportasi, banjir, sampah, harga kebutuhan pokok, keamanan hingga penataan ruang publik perlu ditempatkan dalam kerangka kebijakan perkotaan yang saling terhubung.
“Berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan melalui kebijakan sektoral. Penataan transportasi, pengendalian banjir, pengelolaan sampah, penguatan keamanan lingkungan, stabilisasi harga kebutuhan pokok serta penataan ruang publik harus dirancang dalam satu kerangka pembangunan perkotaan yang saling terhubung,” katanya.
Profil Responden dan Metodologi
Dalam survei tersebut, responden didominasi laki-laki sebanyak 61,6 persen, sedangkan perempuan 38,4 persen. Dari sisi usia, kelompok 21–30 tahun menjadi mayoritas dengan 128 responden, disusul kelompok usia 17–20 tahun sebanyak 30 responden.
Berdasarkan pekerjaan, responden paling banyak berasal dari kalangan pelajar atau mahasiswa.
Sebaran responden terdiri dari Kecamatan Kaliwates sebanyak 42,4 persen, Sumbersari 38,4 persen, dan Patrang 19,2 persen.
Dengan komposisi tersebut, hasil survei terutama menggambarkan persepsi masyarakat usia produktif di tiga kawasan perkotaan tersebut, bukan representasi statistik seluruh masyarakat Kabupaten Jember.
PSC menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Responden direkrut melalui mekanisme open call dengan kriteria tertentu. Data yang masuk kemudian diverifikasi dan melalui proses pembersihan data sebelum digunakan dalam analisis.
Metodologi tersebut menjadi penting untuk membaca hasil survei secara proporsional. Karena menggunakan non-probability sampling dan hanya melibatkan responden dari tiga kecamatan perkotaan, temuan survei tidak dimaksudkan untuk mengestimasi atau menggeneralisasi pendapat seluruh penduduk Kabupaten Jember.
Dorong Kebijakan Terintegrasi
Dari hasil analisis, PSC mendorong sejumlah arah kebijakan, mulai dari penataan parkir dan kawasan PKL, rekayasa lalu lintas berbasis data, perbaikan drainase dan pembangunan sumur resapan, pengelolaan sampah dari sumber, hingga penguatan distribusi pangan dan sistem keamanan lingkungan berbasis masyarakat.
Deni menilai hasil survei tersebut setidaknya menunjukkan bahwa keluhan masyarakat memiliki konteks yang dapat ditelusuri melalui kondisi sosial dan data sekunder.
“Dari hasil laporan kami sejak awal sampai pada kesimpulan, ini menunjukkan bahwa lima masalah utama, dari persoalan banjir, kemacetan hingga keamanan, memiliki konteks yang jelas,” ungkapnya.
“Apa yang disebutkan masyarakat memiliki faktor pendukung, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa masalah tersebut bukan persoalan penting dan genting,” imbuhnya.
Temuan tersebut sekaligus menjadi gambaran mengenai tantangan kawasan perkotaan Jember yang menghadapi peningkatan mobilitas, aktivitas ekonomi, pertumbuhan kawasan perdagangan dan jasa, serta perkembangan sektor informal.
“Bagi PSC, kondisi ini menunjukkan perlunya kebijakan perkotaan yang lebih terpadu agar persoalan kemacetan, banjir, sampah, ekonomi dan keamanan tidak terus ditangani secara terpisah,” pungkasnya.////////










