“Ada hal-hal yang seperti itu, termasuk yang di sini ada gula aren yang digigit. Dan itu tergantung karena ada orang yang senang dengan kopi yang tidak ada gulanya. Jadi ada dua pilihan. Kalau saya memang sudah terbiasa tidak pakai gula, misalnya. Tapi yang menarik ketika ada gula aren kemudian kita gigit, kemudian kita seruput, itu ada sensasi tersendiri,” imbuh Aekanu.
Menurut Aekanu, penyajian gula secara terpisah juga mencerminkan kearifan lokal. Cara tersebut memberikan pilihan bagi penikmat kopi yang tidak menyukai rasa manis, karena gula tidak harus dicampurkan langsung ke dalam minuman.
“Fakta tersebut menarik. Artinya, para pendahulu kita punya kearifan lokal bahwa bagi yang tidak suka manis, gula tidak perlu disentuh. Makanya penyajian kopi dengan gula dipisahkan. Dengan cara itu, kalau seseorang tidak suka manis, maka gulanya tidak disentuh,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan gula aren sebagai pelengkap minum kopi juga merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Di masyarakat dahulu, gula aren dipercaya memiliki manfaat tertentu bagi kesehatan.
“Itu pengetahuan tradisional dan dipercaya oleh orang-orang dulu bahwa dengan gula aren ini akan menjadi lebih sehat dan sebagainya. Itu pengetahuan tradisional seperti itu,” katanya.
Aekanu menegaskan dirinya tetap ingin mempertahankan tradisi menikmati kopi secara tradisional. Menurutnya, penggunaan cangkir dan lepek merupakan warisan leluhur yang perlu dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda.
“Semakin lama juga akan semakin baik dan saya tetap akan mencoba untuk mengajak anak-anak muda seperti itu. Paper cup boleh? Oke, silakan karena itu lebih cepat. Tetap yang pakai cangkir dan lepek itu karena tinggalan leluhur yang harus kita pertahankan, rawat, dan dilestarikan,” pungkasnya.










