Masyarakat Osing Kampung Dukuh Talun Jeruk Banyuwangi Gelar Tradisi Tasyakuran Sambut Tahun Baru Islam 1448 H

by -3 Views
Wartawan: Nurhadi
Editor: Herry W. Sulaksono
Warga Kampung Dukuh Talun Jeruk Desa Glagah menggelar Tasyakuran Malam Tahun Baru Islam 1448 H di jalan depan rumah
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Masyarakat Osing (Wong Osing) Banyuwangi dikenal memiliki kekayaan adat, tradisi, serta seni budaya yang beragam dan tetap lestari hingga kini.

Warga Kampung Dukuh Talun Jeruk, Desa Glagah, menjadi salah satu komunitas yang konsisten menjaga, memelihara, dan melestarikan warisan budaya Osing. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai ritual adat masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas masyarakat setempat.

Menurut pengurus Komunitas Pelestari Adat dan Tradisi (KOPAT) Banyuwangi, Sanusi Marhaedi atau yang akrab disapa Kang Usik, salah satu tradisi yang terus dilestarikan adalah tasyakuran menyongsong Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Dalam tradisi tersebut, masyarakat menyajikan berbagai hidangan khas, salah satunya Tumpeng Lodhoh legendaris Saridin yang menjadi bagian dari tradisi leluhur Kampung Osing Pelestari Adat (Wong KOPAT) Desa Glagah.

Kang Usik menuturkan, secara turun-temurun masyarakat Osing Banyuwangi menyambut datangnya Bulan Suro atau Muharam dengan berbagai ritual adat. Tradisi tersebut tidak hanya diikuti warga Muslim, tetapi juga masyarakat non-Muslim yang merayakannya sesuai keyakinan masing-masing.

“Secara turun-temurun masyarakat Osing Banyuwangi menyambut Bulan Suro atau Muharam. Bagi yang Muslim maupun non-Muslim, semuanya memiliki cara masing-masing dalam memaknai dan merayakan datangnya bulan tersebut,” ujar Kang Usik, Rabu (17/6/2026).

Ia menjelaskan, dalam tasyakuran Suroan terdapat sejumlah uba rampe atau perlengkapan ritual yang hampir selalu disiapkan, antara lain jenang atau bubur Suro, tumpeng serakat, jenang abang, jenang panca warna, nasi gulung, tumpeng pecel, damar kambang, banyu arum, pisang mas, kembang wongso atau kenanga, serta perapian untuk pembakaran kemenyan.

“Arti dan tujuan ritual upacara adat Suroan bagi Wong Osing adalah untuk ngeruwat, memohon keselamatan, serta menolak bala,” jelasnya.

Kang Usik menambahkan, setiap malam 1 Suro warga Kampung Dukuh Talun Jeruk melaksanakan tasyakuran secara serentak di depan rumah masing-masing. Tradisi itu kemudian dilanjutkan dengan kegiatan doa bersama yang rutin dilaksanakan setiap malam Senin dan malam Jumat di lingkungan tempat tinggal warga.

“Ketika malam 1 Suro, warga serentak menggelar tasyakuran di depan rumah masing-masing. Selanjutnya, kegiatan doa bersama dilaksanakan setiap malam Senin dan malam Jumat di lingkungan warga,” pungkasnya.//////

iklan warung gazebo