“Jadilah generasi yang teguh memegang nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap kemajuan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Sebab, bangsa yang kuat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” lanjutnya.
Selain mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, Gus Barra juga menyoroti posisi pesantren dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya, pesantren memiliki tiga fungsi utama, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Ketiga fungsi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak mulia, memperkuat kerukunan, sekaligus mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa Hari Santri bukan semata-mata milik kalangan pesantren, melainkan seluruh masyarakat Indonesia yang menghargai perjuangan, menjunjung persatuan, dan mencintai tanah air.
Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui gotong royong dan pengabdian yang relevan dengan tantangan zaman, tanpa meninggalkan tradisi serta nilai-nilai luhur pesantren.
“Dengan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan akhlak mulia, santri diharapkan menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.////////












