“Festival ini merupakan bagian dari upaya melestarikan pendidikan karakter yang dibangun leluhur. Anak-anak belajar tentang kerja sama, sosial, disiplin, hingga berbesar hati saat mengalami kekalahan melalui permainan tradisional,” ujar Ipuk.
Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi penyeimbang di tengah tingginya penggunaan gawai oleh anak-anak.
“Teknologi tidak bisa kita hindarkan dari anak-anak. Namun kita bisa mencari penyeimbang agar teknologi tidak sampai merusak karakter mereka. Salah satunya dengan memberikan ruang berinteraksi seperti ini,” imbuhnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian mengatakan Festival Memengan Tradisional digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional dengan melibatkan hampir seribu siswa TK dan SD dari seluruh kecamatan di Banyuwangi.
“Kegiatan ini untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak sekaligus melestarikannya,” kata Alfian.
Selain Festival Memengan Tradisional, rangkaian Hari Anak Nasional di Banyuwangi juga diisi Pameran Karya Pelajar yang menampilkan berbagai inovasi siswa, seperti automatic fish feeder karya pelajar SMPN 1 Banyuwangi. Ada pula lomba story telling dan Padang Ulanan yang menjadi wadah pengembangan seni dan budaya bagi anak-anak.









