Prestasi tersebut diraih melalui latihan dan perjuangan yang tidak singkat. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Faisal tetap aktif mengikuti berbagai kejuaraan hingga mampu bersaing di level provinsi. Karena itu, keluarganya berharap capaian tersebut dapat menjadi pertimbangan yang lebih besar dalam proses penerimaan siswa baru.
Kekecewaan yang dirasakan keluarga Faisal bukan semata soal diterima atau tidak diterima di sekolah tertentu. Mereka menilai persoalan yang lebih besar adalah bagaimana sistem pendidikan memberikan penghargaan terhadap siswa yang telah menunjukkan dedikasi dan prestasi membawa nama harum Banyuwangi.
“Yang kami pertanyakan bukan sekolahnya, tapi penghargaan terhadap anak-anak yang sudah berjuang dan berprestasi untuk mengharumkan nama Banyuwangi. Jangan sampai mereka merasa usaha kerasnya tidak berarti dan percuma menjadi anak berprestasi” ujarnya.
Di tengah kekecewaan tersebut, Faisal tetap berusaha menjaga semangat. Ia mengaku masih memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di sekolah yang diidamkannya.
“Saya ingin masuk sekolah di SMPN 1 Banyuwangi, sekolah impian saya, supaya bisa lebih pintar dan bisa mengembangkan kemampuan saya lagi,” kata Faisal yang kini terpaksa mendaftarkan diri di SMPN 4 Banyuwangi lewat jalur domisili.
Status Faisal sebagai siswa berprestasi sekaligus pemegang KIP membuat kisahnya menjadi perhatian tersendiri. Di satu sisi, ia berhasil menorehkan prestasi yang membawa nama daerah. Namun di sisi lain, ia masih menghadapi ketidakpastian dalam memperoleh akses ke sekolah yang diharapkannya.
Kisah Faisal juga menjadi potret kegelisahan sebagian orang tua terhadap pelaksanaan SPMB. Mereka berharap pemerintah dan sekolah dapat mengevaluasi mekanisme penerimaan siswa baru agar prestasi akademik maupun non-akademik, terutama yang diraih siswa dari keluarga kurang mampu, mendapat apresiasi yang lebih proporsional dalam proses seleksi.////////










