“Kami tidak sendiri. Pemerintah desa, Baznas, maupun sejumlah korporasi melalui CSR ikut mendukung program ini karena anggaran kami terbatas sementara masih ada lansia yang perlu dibantu. Harapannya, dengan bergandengan tangan manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan,” ujar Ipuk.
Di lapangan, Elok menjadi salah satu warga yang terlibat langsung dalam memastikan bantuan diterima oleh lansia yang membutuhkan. Ia mengusulkan Sahani sebagai penerima Rantang Kasih dan setiap hari mengantarkan makanan kepada dua lansia.
Menurut Elok, penerima manfaat terkadang meminta menu makanan tertentu. Ia juga memantau kondisi kesehatan mereka agar bisa segera mendapat penanganan jika sakit.
“Setiap hari saya yang mengantar. Tak jarang mereka request makanan tertentu. Bagi saya ini adalah ladang amal,” kata Elok.
“Kalau sakit saya laporkan ke bidan posyandu untuk segera diperiksa ke rumah mereka,” imbuhnya.
Selain Sahani, Samsiyah (69), warga Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, juga merasakan manfaat program tersebut. Lansia yang tinggal sendirian itu mengaku terbantu karena kebutuhan makan hariannya telah disiapkan dan diantarkan.
Ipuk menilai keterlibatan masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program Rantang Kasih.
“Lebih dari sekadar bantuan pangan, program ini menjadi ruang gotong royong yang mempertemukan pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan warga untuk merawat sesama,” kata Ipuk.////////












