Tema “Perang Bayu” diangkat melalui lima fragmen yang menggambarkan heroisme masyarakat Blambangan dalam menghadapi pasukan kolonial Belanda pada abad ke-18. Kisah perjuangan tersebut diterjemahkan ke dalam rancangan busana artistik yang memadukan unsur sejarah, budaya, dan sentuhan fesyen modern.
Khofifah menilai keberhasilan BEC tidak lepas dari kolaborasi antara pemerintah daerah dengan para budayawan, seniman, desainer, hingga pelaku industri kreatif di Banyuwangi.
“Terima kasih kepada Pemkab Banyuwangi selaku orkestrator dari seluruh kegiatan yang ada di Banyuwangi, terutama BEC. Mudah-mudahan Banyuwangi terus melejit dan maju. Serta masyarakat bisa terus membangun sinergi dari lokal menuju global,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku bersyukur BEC yang kini memasuki tahun ke-14 tetap menjadi agenda yang dinanti masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Kami sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang memberi sumbangsih atas terselenggaranya BEC tahun ini, terkhusus untuk seluruh anak-anak muda yang terlibat dalam parade ini. Terima kasih atas kerja kita bersama sehingga BEC bisa kembali hadir dan memikat,” kata Ipuk.
Ipuk menegaskan keberlangsungan BEC selama 14 tahun menjadi bukti pentingnya sinergi dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam membangun Banyuwangi sebagai destinasi budaya dan pariwisata berkelas dunia.
“Semoga BEC tahun ini juga menjadi tonggak bagi kita semuanya untuk bersama-sama tandang bareng membangun Banyuwangi yang kita cintai,” ujarnya.
Kemegahan BEC 2026 juga dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, perwakilan Kementerian Pariwisata RI, anggota DPR RI, jajaran petinggi BUMN, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan.///////










