Oleh : In’amul Mustofa M.IP
Akhirnya Rocky Gerung merapat ke pemerintahan Prabowo. Ia dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Publik pun segera membaca peristiwa ini sebagai perpindahan posisi: seorang pengkritik kekuasaan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.
Sebagian mungkin melihatnya sebagai pergeseran moral politik. Tetapi boleh jadi persoalannya jauh lebih sederhana: Rocky tidak sedang berganti moral. Ia hanya berganti tempat. Dari luar ke dalam.
Dan justru karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan mengapa Rocky merapat kepada Prabowo, melainkan: mengapa Prabowo membuka pintu untuk Rocky?
Sebab Prabowo sesungguhnya tidak terlalu membutuhkan seorang Rocky untuk menjadi corong pemerintah.
Pemerintah sudah memiliki banyak corong. Menteri, juru bicara, partai pendukung, pejabat birokrasi, bahkan influencer politik, semuanya bisa menjelaskan mengapa sebuah kebijakan pemerintah perlu dipercaya. Mereka bekerja dalam logika public relations: menyampaikan pesan, mengendalikan persepsi, menjelaskan kebijakan.
Rocky berada di wilayah yang berbeda.
Kekuatan Rocky selama ini bukan terutama membuat publik menyukai sebuah kebijakan. Ia lebih pandai membuat publik melihat kebijakan dari sudut yang berbeda.
Bahkan terhadap sesuatu yang semula tidak disukai publik, Rocky bisa menawarkan bingkai lain. Bukan dengan mengatakan, “Anda harus setuju,” melainkan dengan menggoda: mengapa kita melihat persoalan ini hanya dari sudut itu?
Di situlah kekuatan public opinion Rocky.
Ia tidak selalu menjadi pembawa pesan. Ia adalah pengubah cara orang membaca pesan.
Karena itu Rocky sebenarnya tidak terlalu cocok menjadi corong. Corong membutuhkan konsistensi. Hari ini mengatakan A, besok menjelaskan A, lusa mempertahankan A.
Rocky justru gemar bertanya: mengapa harus A?
Ia lebih suka menjadi cermin.
Corong menyampaikan suara kekuasaan kepada publik. Cermin mengembalikan wajah kekuasaan kepada dirinya sendiri.
Dan mungkin di situlah alasan Prabowo bisa memerlukan Rocky.










