“Desa Kampung Anyar ini berada di hulu. Kita harus merawat air dan alam. Terima kasih kepada Dinas PU Pengairan yang sudah berpartisipasi mengajak masyarakat menjaga alam di desa kami,” kata Suwandi.
Ia menilai upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama di tengah persoalan kerusakan lahan yang disebabkan alih fungsi komoditas tanaman dari tanaman keras menjadi tanaman palawija dan hortikultura di kawasan atas yang dapat memengaruhi kondisi aliran air.
Kampung Anyar sendiri bukan hanya memiliki fungsi penting sebagai kawasan sumber air, tetapi juga dikenal dengan potensi wisata berbasis alam dan aliran sungai. Suwandi menyebut sedikitnya ada enam destinasi wisata air di desanya, yakni Jopuro, Jagir, Ketegan, Prongsodan, Griya Watu , dan Kaligedung.
Keberadaan destinasi tersebut memberikan ruang bagi warga untuk mendapatkan penghasilan dari potensi alam yang dimiliki desa. Namun, kelangsungan wisata air sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang bersih dan terjaga.
“Warga kami mengais rezeki dari air dan alamnya. Karena itu, kami mengambil kebijakan melalui musyawarah bersama masyarakat desa agar air dan alam tetap dijaga,” ujarnya.
Suwandi menambahkan, pemerintah desa juga telah menjalankan pengelolaan sampah selama sekitar lima bulan sebagai bagian dari upaya mencegah pencemaran lingkungan. Langkah ini diperlukan agar sampah tidak mencemari aliran sungai yang menjadi penopang kebutuhan warga sekaligus daya tarik wisata.
Bagi Kampung Anyar, menjaga sungai berarti merawat lebih dari sekadar aliran air. Kelestarian kawasan hulu juga berkaitan dengan keberlangsungan pertanian, ketersediaan air bersih, dan aktivitas ekonomi masyarakat yang tumbuh dari wisata alam.
Guru pendamping siswa SMP Darul Ilmi Banyuwangi, Putri Novia Pradani, mengatakan kegiatan Sekardadu memberikan pengalaman langsung kepada pelajar untuk mengenal pentingnya menjaga lingkungan.
Menurutnya, keterlibatan siswa dalam penanaman pohon dan penebaran benih ikan menjadi pembelajaran nyata tentang hubungan antara manusia, sungai, dan ekosistem di sekitarnya.
“Anak-anak diajarkan untuk lebih mencintai lingkungan sekitar, khususnya daerah aliran sungai. Di sini juga banyak wisata yang harus kita jaga lingkungannya supaya tetap bersih dan nyaman bagi wisatawan,” kata Putri.
Ia berharap kepedulian yang tumbuh melalui kegiatan tersebut tidak berhenti setelah siswa kembali ke sekolah. Kebiasaan menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan peduli terhadap kondisi lingkungan diharapkan terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, ketika mereka nanti bermasyarakat, kepedulian terhadap lingkungan semakin tumbuh. Ketika melihat sampah, mereka mulai peduli dan ikut menjaga lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.////////












