“Target latihan hari ini adalah menguji akurasi koordinasi antara data yang tersaji di aplikasi dengan arah orientasi teleskop. Kami ingin para peserta membiasakan diri membaca azimut dan ketinggian benda langit secara presisi, sehingga tidak lagi berspekulasi mencari objek secara manual. Ini modal utama sebelum mereka kelak terjun pada rukyatul hilal yang sebenarnya,” jelas Andreas.
Salah seorang peserta pelatihan, Wisnu Ndaru Kusuma, siswa SMK Bina Sejahtera Mandiri Banyuwangi yang turut mengoperasikan teleskop rukyat, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang menantang sekaligus berharga.
“Praktik ini membuka wawasan kami bahwa rukyatul hilal menuntut ketelitian tinggi. Kami belajar membaca koordinat di gawai dan langsung menyelaraskannya dengan sudut bidik teleskop di lapangan. Keterampilan seperti ini sangat penting untuk mendukung penentuan awal bulan Hijriah secara tepat,” ungkap Wisnu.
Melalui pelatihan teknis rukyatul hilal tersebut, DPD LDII Banyuwangi berharap para siswa dan santri tidak hanya memahami teori hisab, tetapi juga terbiasa menggunakan instrumen optik secara mandiri.
Program pelatihan ini sekaligus disiapkan sebagai sarana kaderisasi teknis agar generasi penerus memiliki keterampilan dan kesiapan untuk memperkuat tim rukyatul hilal resmi pada masa mendatang.











