Banyuwangi, seblang.com – Wahid Foundation dengan dukungan Tamasek Foundation Singapura berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar Forum Perdamaian Eco Harmony in Action (Harmony in Action Eco Peace Forum) di Bangsring Under Water, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Senin (10/8/2026).
Managing Director Wahid Foundation, Siti Kholisoh yang akrab disapa Olis, mengatakan Forum Perdamaian Eco Harmony in Action mengusung tema “Melampaui Batas: Pemimpin Muda untuk Perdamaian, Keyakinan, dan Masa Depan yang Lebih Hijau” (Beyond Borders: Young Leaders for Peace, Faith and Greener Future).
Menurut Olis, kegiatan tersebut merupakan rangkaian program Harmony in Action, yang menjadi kelanjutan dari Gus Dur School for Peace (GDSP) yang tahun ini memasuki tahun kedua.
“Wahid Foundation berkolaborasi dengan Tamasek Foundation Singapura untuk memperkuat peran anak-anak muda, khususnya dari berbagai latar belakang agama, budaya, etnik, dan bahkan negara, untuk sama-sama membuat collaborative action, aksi kolaborasi untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim,” ujar Olis.
Ia menuturkan, salah satu kunci dalam menghadapi perubahan iklim adalah membangun kesadaran masyarakat di lingkungan masing-masing melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif, sekaligus mendukung kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
“Salah satu kuncinya adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat di lingkungan masing-masing melalui cara-cara yang kreatif, inovatif untuk mendukung kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Olis menambahkan, dari sekitar 700 pendaftar Gus Dur School for Peace, Wahid Foundation menyeleksi 27 peserta untuk mengikuti kelas GDSP selama tiga bulan. Setelah itu, para peserta mendapatkan dukungan untuk membangun innovation challenge fund di lingkungan masing-masing.
Selama enam bulan, para peserta merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi proyek-proyek sosial di lingkungan mereka masing-masing.
“Kemudian saat ini adalah saatnya bagaimana mereka berbagi, belajar, dan bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan masyarakat Banyuwangi,” tambah Olis.
Ia menjelaskan, Banyuwangi dipilih sebagai salah satu ruang belajar bagi para alumni GDSP untuk memperluas pengalaman dan membangun kolaborasi dengan masyarakat setempat.
“Banyuwangi ini bagi kami adalah learning space, sehingga tepat bagi para anak-anak muda alumni GDSP ini untuk kemudian di sini belajar, berefleksi, mendengar, atau bahkan mencari tahu dan berkolaborasi dengan teman-teman muda dan masyarakat Banyuwangi pada umumnya,” pungkasnya.///////////////










