Pada penyelenggaraan sebelumnya, jumlah peserta hampir mencapai 370 pebalap. Bahkan, event tersebut diikuti pebalap dari sejumlah negara.
“Tahun kemarin itu hampir 370 dan kalau enggak salah ada tujuh sampai delapan negara yang ikut. Mulai dari Iran, Thailand, Filipina, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Australia juga,” ungkapnya.
Meski peserta tahun ini menurun, Munif menyebut perkembangan event dan kualitas atlet terus meningkat.
“Kalau perkembangan dari event ini dan atlet-atletnya, alhamdulillah kita berkembang terus. Dari tahun kemarin sampai tahun ini, eventnya meningkat terus pesat,” katanya.
Sejumlah atlet Banyuwangi juga telah berkembang hingga level internasional. Munif menyebut beberapa atlet pernah tampil di Asian Games.
Di tingkat lokal, masih ada sejumlah pebalap yang menjadi kekuatan Banyuwangi, termasuk atlet dari tim 76Rider dan pebalap elite lainnya.
BIG Downhill bermula dari komunitas sepeda yang awalnya hanya melakukan kegiatan gowes bersama. Komunitas tersebut bernama Sego Anget Racing Club (SACJ), sebelum pada 2019 berganti menjadi Sego Anget Racing Team (SART).
“Awalnya sebenarnya kita ini grup gobar, jadi komunitas sepeda biasa antar teman. Yang kita punya pertama itu SACJ, Sego Anget Racing Club. Dalam perjalanan, mulai tahun 2019 kita berganti menjadi SART, Sego Anget Racing Team,” tutur Munif.
Ketertarikan menggelar kompetisi di Banyuwangi muncul setelah Munif mengikuti lomba di Probolinggo.
“Saya pertama kali ikut lomba itu di Probolinggo, di Taman Pinang. Setelah itu saya berpikir, kenapa Banyuwangi enggak bisa? Karena Banyuwangi lengkap. Kita punya gunung, punya kebun dan semuanya,” ujarnya.
Pada 2019, event pertama digelar dengan format enduro. Kemudian pada 2020, format downhill mulai digelar meski saat itu Indonesia tengah menghadapi pandemi COVID-19.
Dukungan Pemerintah Daerah mulai diberikan pada 2021. Sejak saat itu, event terus berkembang hingga masuk dalam penyelenggaraan UCI.
Selain menjadi arena kompetisi, BIG Downhill juga membawa dampak bagi perekonomian warga. Para pebalap dan tim yang datang dari luar daerah membutuhkan hotel, homestay, rumah warga, hingga konsumsi selama berada di Banyuwangi.
“Di downhill ini beda dengan road race. Kita ini tidak mendatangkan orang, kita tidak kasih kehadiran mereka uang, tidak memberi penginapan, tidak memberi makan. Mereka semua berbondong-bondong ke sini sendiri. Mereka cari penginapan sendiri, cari hotel sendiri, cari makan sendiri,” jelasnya.
Satu tim bisa terdiri dari belasan orang, mulai pebalap, mekanik hingga manajer. Sebagian memilih menyewa rumah warga selama berada di Banyuwangi.
“Satu tim misalnya pembalapnya tujuh, ada mekanik, ada manajer, itu bisa 15 orang. Dia nyewa rumah penduduk untuk 15 orang dan pesan makan pagi, siang, sore,” katanya.
“Warga itu mendapatkan rezeki lagi. Kadang-kadang mereka tanya, kapan tanding ini? Cuma kita selama ini baru setahun sekali,” imbuh Munif.///////////










