“Nyali Aja Nggak Cukup”, Begini Keganasan Trek BIG Downhill Banyuwangi

by -6 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Menaklukkan lintasan BIG (Banyuwangi Ijen Geopark) Downhill 2026 di Banyuwangi ternyata tak cukup hanya bermodal nyali. Pebalap harus mampu membaca karakter trek yang berubah-ubah, mulai dari tanah basah, jalur kering hingga bagian berbatu yang tak jarang membuat rider kehilangan kendali.

Ketua Panitia Penyelenggara BIG Downhill 2026, H. Munif, menyebut karakter lintasan sepanjang sekitar 2,3 kilometer itu menjadi tantangan tersendiri bagi para pebalap.

“Teman-teman bilang trek di sini ngeri-ngeri sedap,” kata Munif di sela penyelenggaraan Big Downhill, Minggu (20/9/2026).

Bagian atas lintasan berada di kawasan Perhutani dan perkebunan. Kontur tanahnya cenderung basah dan sulit mengering.

Sementara di bagian bawah, kondisi tanah justru kering. Bahkan saat hujan, bagian tersebut tetap relatif kering sehingga laju sepeda bisa semakin kencang.

“Di atas itu kontur tanahnya tidak pernah bisa kering, selalu basah. Sedangkan yang mulai masuk di depan sampai ke sini itu selalu kering, meskipun hujan tetap kering. Jadi lajunya akan semakin kencang,” ujarnya.

Tantangan semakin bertambah ketika pebalap melewati bagian berbatu. Permukaan trek yang tidak rata membuat rider harus ekstra cermat menjaga keseimbangan.

Tak jarang, pebalap kehilangan kendali hingga terjatuh saat melibas jalur tersebut. Kondisi ini membuat kemampuan membaca lintasan menjadi sama pentingnya dengan keberanian memacu sepeda.

Perbedaan karakter trek juga membuat pemilihan ban menjadi persoalan tersendiri.

“Kalau hujan atau basah dia pakai ban basah. Tapi kalau di bawah dia akan kalah, pakai ban kering di atas akan kalah,” jelas Munif.

Sejumlah tim bahkan datang lebih awal untuk mempelajari karakter lintasan. Ada yang menghabiskan waktu hingga 10 hari di Banyuwangi.

Namun, trek tersebut tetap sulit diprediksi karena kondisinya bisa berubah setiap hari.

“Kontur tanahnya di sini susah ditebak. Kemarin hari pertama, teman-teman tim ada yang sampai 10 hari di sini mempelajari itu. Tapi pada saat shading juga enggak bisa, karena setiap hari selalu berubah,” katanya.

Karena itu, menurut Munif, olahraga downhill tidak hanya membutuhkan keberanian.

“Nyali aja enggak cukup,” selorohnya.

Pernyataan itu sekaligus menggambarkan tantangan menjadi pebalap downhill. Selain keberanian dan kemampuan teknis, olahraga tersebut membutuhkan dukungan biaya untuk sepeda, perlengkapan, perjalanan, hingga kebutuhan selama mengikuti kompetisi.

BIG Downhill 2026 sendiri diikuti pebalap dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta datang antara lain dari Batam, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Jakarta, Tangerang hingga Jawa Tengah.

Jumlah peserta tahun ini memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Munif menyebut kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang kemungkinan memengaruhi.

iklan warung gazebo