Berdampak Sosial dan Ekonomi
Kehadiran Habib Syech menarik antusiasme besar dari masyarakat dan para pecinta sholawat. Lantunan sholawat yang menggema di kawasan Grahadi menciptakan suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan.
Bagi Ning Lia, tingginya antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dan sosial masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat Jawa Timur.
“Pemerintah perlu terus memberikan ruang bagi kegiatan positif yang mempererat hubungan sosial dan membangun suasana kondusif,” ujarnya.
Ia juga menekankan dampak ekonomi dari kegiatan berskala besar tersebut.
“Pecinta sholawat berkumpul. Dan ini bukan hanya mengajak masyarakat berkumpul, tetapi salah satu poin utama dalam kegiatan Gubernur adalah selalu memberikan ruang bagi para pelaku usaha,” kata Lia.
Para pelaku UMKM memanfaatkan momentum tersebut untuk menjajakan berbagai produk, mulai dari minuman, makanan ringan, gorengan, hingga kebutuhan lainnya.
“Mereka jualan minuman, gorengan, dan sebagainya. Mereka merasakan langsung manfaat dari kebaikan yang difasilitasi Gubernur,” tutur Lia.
Pembangunan yang Menyentuh Akar Rumput
Menurut Ning Lia, kegiatan sholawat dan doa bersama menjadi contoh pemanfaatan ruang publik secara produktif. Masyarakat mendapatkan ruang untuk memperkuat silaturahmi dan spiritualitas, sementara pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk menambah pendapatan.
“Pembangunan daerah tidak hanya soal infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi skala besar. Penguatan ekonomi masyarakat melalui aktivitas UMKM juga bagian yang tidak terpisahkan,” jelasnya.
Semangat syukur atas 81 tahun kemerdekaan Indonesia, lanjutnya, diwujudkan tidak hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui kebersamaan, doa, sholawat, serta terbukanya ruang ekonomi bagi masyarakat.
Bagi Lia, kegiatan yang mampu menghadirkan manfaat sosial sekaligus ekonomi merupakan bentuk kegiatan publik yang patut terus dipertahankan dan dikembangkan di Jawa Timur. (* /ady)










