“Jangan cuma kita, ibaratnya, kemerdekaan itu dilakukan dengan hura-hura. Kita harus menghargai sejarah, bagaimana kakek nenek kita dulu berjuang untuk memerdekakan negara ini,” katanya.
Menurut Daya, hiburan tetap diperlukan masyarakat. Namun, bentuk hiburan dapat diarahkan menjadi kegiatan yang memberikan manfaat sosial sekaligus edukatif.
Konsep itulah yang kemudian diterapkan dalam Karnaval Kemerdekaan Kelurahan Lawang.
Anak-anak dan remaja tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam pertunjukan. Mereka mengenakan kostum, memainkan permainan tradisional, hingga memerankan fragmen perjuangan kemerdekaan.
Sebelum karnaval digelar, masyarakat Lawang juga telah menjalankan berbagai kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI. Kegiatan tersebut meliputi malam tirakatan, khotmil Quran, malam renungan suci, pengibaran bendera, hingga kegiatan baris-berbaris yang melibatkan pelajar SD, SMP, SMA, dan SMK pada Sabtu (29/8/2026).
Seluruh rangkaian kegiatan kemudian bermuara pada karnaval yang mempertemukan warga dari berbagai lingkungan dalam satu perayaan bersama.
Tanpa dentuman sound horeg, kemeriahan tetap terasa. Tepuk tangan warga, penampilan peserta, dan riuh penonton justru menjadi warna utama sepanjang jalur karnaval.
Lawang pun menunjukkan bahwa merayakan kemerdekaan tidak selalu harus ditentukan oleh seberapa keras musik diputar. Kreativitas masyarakat, ingatan terhadap sejarah, serta kebersamaan warga mampu menghadirkan pesta rakyat yang tetap meriah sekaligus memiliki makna.///////












