Banyuwangi, seblang.com – Keberhasilan sapi pedet asal Banyuwangi meraih juara dalam Kontes Sapi dan Expo Piala Bupati Blitar 2026 yang digelar pada 25–26 Juli 2026 di Pasar Hewan Terpadu Wlingi, Kabupaten Blitar, menjadi kebanggaan bagi masyarakat, khususnya komunitas peternak sapi Banyuwangi.
Kontes Sapi dan Expo tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Blitar ke-702 tahun 2026. Ajang ini diikuti 170 ekor sapi dari berbagai daerah. Banyuwangi berhasil meraih juara II kelas pedet betina dan juara IV kelas P1.
Ketua Komunitas Peternak Sapi Minak Jinggo Banyuwangi, Suhariyanto, mengatakan hasil yang diraih peternak sapi Banyuwangi dalam ajang tersebut sangat memuaskan. Sebab, persiapan yang dilakukan relatif terbatas karena banyak sapi milik peternak Banyuwangi telah terjual untuk kebutuhan Idul Adha.
“Persiapan memang kurang karena sapi-sapi dari peternak Banyuwangi sudah banyak yang laku untuk dijual saat Idul Kurban. Tetapi alhamdulillah, peternak di kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini masih menyimpan beberapa sapi, termasuk yang masuk kelas pedet betina dan kelas yang awalnya P0,” ujar Suhariyanto saat ditemui di kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banyuwangi, Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan, salah satu sapi yang awalnya masuk kelas P0 kemudian naik kelas setelah dilakukan pemeriksaan di lokasi kontes karena telah mengalami poel sepasang.
“Awalnya kelas P0, tetapi setelah di sana naik kelas karena giginya poel sepasang. Akhirnya naik kelas. Untuk kelas pedet betina alhamdulillah mendapat juara dua, sedangkan kelas P1 mendapat juara empat,” jelas alumni Fakultas Hukum Universitas Jember tersebut.
Dalam ajang kontes sapi itu, peternak Banyuwangi tetap mengandalkan jenis sapi yang selama ini menjadi andalan, yakni sapi Simmental.
Sebagai bentuk rasa syukur atas prestasi tersebut, Komunitas Peternak Sapi Minak Jinggo Banyuwangi menggelar pertemuan di rumah Cip, pemilik sapi yang meraih juara dalam kontes di Blitar, di Dusun Telogosari, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.
“Alhamdulillah, sebagai bentuk rasa syukur, kemarin seluruh anggota kami undang. Termasuk para pelaku di bidang peternakan, ada dokter hewan, petugas IB (inseminasi buatan), dan masyarakat sekitar untuk mengikuti syukuran. Ini juga untuk lebih memotivasi peternak agar semakin semangat,” imbuh ayah dua putri tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Suhariyanto juga mencanangkan agar komunitas lebih fokus mengembangkan usaha pembibitan dan pembiakan ternak atau breeding.
Menurutnya, populasi sapi di Banyuwangi saat ini mengalami penurunan. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD), serta banyaknya sapi yang dipotong untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha dan Idul Fitri 1447 H.
Ia berharap para peternak mulai meningkatkan usaha breeding, mengingat populasi sapi di Banyuwangi berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi mengalami penurunan.
“Antara jumlah sapi yang lahir dengan jumlah yang dipotong tidak berimbang. Sapi yang dipotong jumlahnya lebih banyak dibandingkan sapi yang lahir,” katanya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pihaknya telah mengusulkan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi agar pemerintah menambah sapi calon indukan.
“Kalau solusinya, kemarin kami usulkan kepada Kepala Dinas Pertanian, perlu adanya penambahan sapi calon induk. Jadi nanti ada penambahan calon-calon induk yang ditempatkan di sentra-sentra sapi. Misalnya di daerah Tegaldlimo, Pesanggaran, dan daerah-daerah yang menjadi sentra breeding, sehingga bisa menambah populasi sapi,” pungkas Suhariyanto.////////










