“Pengadaan kapal besar ini salah satunya untuk menyiasati kemacetan di Ketapang. Pada saat peak season, kapal-kapal yang lebih besar dibutuhkan untuk membantu mengurai kemacetan,” jelasnya.
Sebelum resmi beroperasi, KMP Trisila Bhakti 3 menjalani berbagai tahapan persiapan. Mulai pelatihan kru, pemenuhan dokumen pelayaran, hingga pemeriksaan dan pemenuhan spesifikasi sesuai standar Badan Klasifikasi Indonesia (BKI). Seluruh persyaratan tersebut dipenuhi sebelum kapal mendapatkan izin memasuki lintasan operasional.
Dari sisi pelayanan, kapal ini dilengkapi sejumlah fasilitas, di antaranya ruang menyusui, fasilitas medis atau P3K, musala, kantin, ruang VIP, serta smoking area. Fasilitas keselamatan seperti perangkat penyelamatan jiwa dan pemadam kebakaran juga disiapkan untuk mendukung keselamatan selama pelayaran.
Untuk mendukung operasional kapal, PT Trisila Laut menyiapkan 30 orang ABK yang seluruhnya merupakan putra daerah Banyuwangi. Mereka dipilih dengan mempertimbangkan pengalaman dan pemahaman terhadap karakter perairan Selat Bali.
Selain kemampuan teknis, para ABK juga dibekali prinsip pelayanan 4S, yakni senyum, sapa, salam dan simpatik. Kemampuan bahasa asing dasar turut diberikan sebagai bagian dari pelayanan kepada wisatawan mancanegara.
Retarto menegaskan keselamatan dan kenyamanan menjadi perhatian utama perusahaan dalam pengoperasian KMP Trisila Bhakti 3.
“Visi kita adalah bagaimana melayani penumpang merasa aman dan nyaman. Aman, perlengkapan keselamatan kita lengkap. Nyaman, fasilitas yang disediakan juga lengkap,” tegasnya.
Dengan mulai beroperasinya KMP Trisila Bhakti 3, PT Trisila Laut berharap kehadiran armada baru tersebut dapat memperkuat pelayanan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk sekaligus menjadi tambahan kapasitas ketika terjadi peningkatan volume kendaraan di lintasan tersebut.///////










