“Kami juga ingin belajar berbagai alternatif pembiayaan pembangunan yang telah dilakukan Banyuwangi untuk memajukan daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan bahwa wilayahnya merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa.
“Tantangan tersebut serta keterbatasan fiskal menuntut kami harus terus berinovasi untuk mengubah tantangan menjadi peluang,” kata Ipuk.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah, dengan tetap menetapkan skala prioritas pembangunan.
“Kami menerapkan konsep 3A, yakni memastikan aksesibilitas, atraksi, dan amenitas yang terjangkau dan tersedia,” jelasnya.
Ipuk menambahkan, kekuatan utama Banyuwangi terletak pada masyarakat yang memiliki kebanggaan tinggi terhadap budaya lokal. Hal ini kemudian dikolaborasikan dengan pemerintah melalui berbagai event, termasuk Banyuwangi Festival.
“Tradisi yang telah hidup turun-temurun kami kemas dengan manajemen event kekinian, sehingga menjadi atraksi menarik. Banyak event digelar atas inisiatif warga, kami kurasi agar lebih apik,” paparnya.
Berkat kolaborasi tersebut, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi terus meningkat. Pada 2025 tercatat mencapai 5,65 persen, naik dari 4,68 persen pada 2024. Sementara itu, angka kemiskinan juga menurun dari 6,54 persen menjadi 6,13 persen. (*)










