Beasiswa tahfidz yang diterima Bela juga menjadi pengalaman berarti karena sebelumnya ia belum pernah mendapatkan beasiswa selama menjalani perkuliahan di UIJ.
“Saya tentu sangat bersyukur bisa mendapatkan beasiswa tahfidz ini. Proses yang harus dijalani juga cukup panjang dan tidak mudah, sehingga saya sangat bersyukur atas hasil yang diperoleh,” ungkapnya.
Rektor UIJ Ahmad Halid mengatakan, apresiasi dalam peringatan Hari Santri tidak hanya diberikan kepada mahasiswa penghafal Al-Qur’an. Kampus juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang menorehkan prestasi dalam kepenulisan dan berbagai perlombaan akademik.
“Ada yang juara menulis di media, ada juga juara lomba-lomba akademik, kemudian ada juga yang tahfidz 30 juz. Itu semuanya kami berikan penghargaan,” bebernya.
Menurut Halid, tantangan santri pada masa sekarang tidak cukup dijawab dengan penguasaan ilmu agama. Santri juga perlu mengembangkan kemampuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk mengikuti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Dalam peringatan Hari Santri Nasional ini, kami ingin santri bisa menguasai pengetahuan, IPTEK, termasuk AI. Mereka yang sudah memiliki prestasi kami berikan apresiasi,” ulasnya.
Ia menegaskan, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan akhlak. UIJ juga melakukan rekonstruksi kurikulum agar pembelajaran sesuai dengan perkembangan kebutuhan akademik dan dunia kerja, sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari keterampilan di luar program studi.
“Santri harus bisa menguasai ilmu agama secara luas, tetapi juga harus menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan tetap memiliki akhlak yang baik. Penguasaan IPTEK itu harus tetap diikat dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.
Halid berharap, momentum Hari Santri dapat mendorong mahasiswa untuk terus berprestasi, mengembangkan kemampuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
“Sekarang bagaimana kita memberikan pendidikan jihad dalam konteks menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah. Santri harus memiliki pengetahuan yang luas, mampu meneliti, menulis, mengikuti perkembangan teknologi, dan tetap memiliki akhlak yang baik,” pungkasnya.//////












