Hal tersebut, kata dia, menjadi penting mengingat Indonesia mulai memasuki era aging population seiring meningkatnya angka harapan hidup masyarakat. Kondisi itu membuat kebutuhan pelayanan kesehatan, khususnya bagi kelompok lanjut usia, semakin kompleks.
“Berbagai sindrom geriatri seperti gangguan keseimbangan, penurunan fungsi kognitif, malnutrisi hingga penurunan mobilitas sering kali tidak disadari sejak dini. Karena itu, pelayanan kesehatan bagi lansia harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif,” ujarnya.
Seminar bertema Comprehensive Management of Geriatric Syndrome yang digelar RSUD Prof. dr. Soekandar tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menghadapi tantangan pelayanan geriatri.
Dalam kesempatan itu, Gus Barra juga mengucapkan selamat atas Hari Ulang Tahun ke-26 RSUD Prof. dr. Soekandar. Ia berharap rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Mojokerto tersebut terus menghadirkan inovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Selain mendorong transformasi digital, Gus Barra mengingatkan bahwa mutu pelayanan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi maupun kelengkapan fasilitas kesehatan. Sikap ramah, komunikasi yang baik, dan empati tenaga kesehatan kepada pasien juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
“Saya tidak ingin ada masyarakat yang mengurungkan niat berobat karena merasa kurang mendapatkan informasi, pelayanan yang ramah, atau komunikasi yang baik. Karena itu, saya mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk terus membangun budaya melayani dengan hati dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tegasnya.///////









