Banyuwangi, seblang.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) memberikan pelatihan kepada guru PKG Blimbingsari untuk mengembangkan Two-Tier English Test sebagai instrumen diagnostik dalam mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada pembelajaran matematika sekolah dasar.
Kegiatan pemberdayaan yang berpusat di SDN 1 Watukebo tersebut menjadi bagian dari program Pemberdayaan PKG Blimbingsari pada Pengembangan Two-Tier English Test untuk Diagnostik Miskonsepsi Matematika SD. Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya diperkenalkan dengan konsep asesmen dua tingkat, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam proses penyusunan hingga simulasi penggunaannya.
Pelatihan dipandu Istikomah sebagai moderator. Sedangkan materi pelatihan disampaikan oleh dua dosen Poliwangi yakni Ika Yuniwati, S.Pd., M.Si., dan Ely Trianasari, S.Pd., M.Pd., yang memberikan pemahaman kepada guru mengenai konsep asesmen two-tier, penyusunan instrumen, identifikasi miskonsepsi, hingga penerapannya dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Ika menjelaskan, Two-Tier English Test memiliki karakteristik berbeda dibandingkan asesmen biasa karena tidak hanya melihat jawaban akhir siswa, tetapi juga alasan yang mendasari jawaban tersebut.
“Pada two-tier test, siswa tidak hanya diminta menjawab pertanyaan utama pada Tier 1, tetapi juga memilih alasan yang paling sesuai dengan cara berpikirnya pada Tier 2. Dari kombinasi kedua jawaban itu, guru bisa mendapatkan gambaran yang lebih mendalam mengenai pemahaman siswa,” ujar Ika, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu guru membedakan siswa yang benar-benar memahami konsep dengan siswa yang menjawab benar karena menebak atau memiliki pemahaman yang belum tepat.
“Jadi, jawaban siswa tidak berhenti pada benar atau salah. Kombinasi jawaban pada kedua tingkat dapat membantu guru mengidentifikasi apakah siswa paham konsep, menebak, mengalami miskonsepsi, atau belum memahami konsep,” katanya.
Dalam praktiknya, guru dilatih menyusun instrumen mulai dari menentukan kompetensi dan indikator, membuat kisi-kisi, mengidentifikasi kemungkinan miskonsepsi yang muncul pada siswa, hingga mengembangkan pertanyaan Tier 1 dan Tier 2.
Ely Trianasari menekankan bahwa proses penyusunan soal perlu diawali dengan pemetaan konsep yang ingin diukur. Guru juga perlu memperkirakan bentuk kesalahan pemahaman yang mungkin muncul sehingga pilihan jawaban dan alasan pada instrumen benar-benar dapat memberikan informasi diagnostik.
“Guru perlu memahami terlebih dahulu konsep yang akan diukur, kemudian memetakan kemungkinan miskonsepsi yang terjadi. Dari situ baru disusun pertanyaan utama dan pilihan alasan yang dapat menggambarkan cara berpikir siswa,” jelas Ely.
Selain materi matematika, guru juga dikenalkan dengan penyusunan instrumen menggunakan Bahasa Inggris sederhana. Penggunaan Bahasa Inggris tersebut menjadi bagian dari inovasi asesmen sekaligus memperkenalkan istilah-istilah matematika kepada siswa.
“Penggunaan Bahasa Inggris tidak dimaksudkan untuk membuat soal menjadi lebih sulit. Justru bahasanya perlu dibuat sederhana dan disesuaikan dengan kemampuan siswa agar mereka tetap dapat memahami konteks matematika yang ditanyakan,” ujar Ely.










