Menurut perempuan yang identik dengan atasan kebaya dan bawahan batik nusantara tersebut, perubahan tersebut menjadi poin penting sejalan dengan upaya menjaga dan memperluas lahan hijau di Indonesia.
“Ini menjadi sebuah poin sangat penting kalau kita bicara Indonesia saat ini selalu berjuang bagaimana tanah lahan hijau semakin diperluas,” ungkap Ning Lia yang juga legislator penggerak demokrasi tersebut.
Selain itu, senator yang dekat dengan Gen Z itu turut memberikan perhatian terhadap gagasan sekolah untuk desa inklusif. Ia menilai program tersebut menarik dan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan desa yang inklusif.
“Dan kemudian yang terakhir terkait dengan sekolah untuk desa inklusif, itu sangat menarik, sangat menarik,” katanya.
Meski demikian, Ning Lia mendorong agar skema pelaksanaan program tersebut dirancang secara jelas sehingga dapat berjalan selaras dengan program kementerian lainnya.
“Tapi bagaimana skemanya agar tidak terjadi sebuah overlapping atau tumpang tindih dengan kementerian yang lain. Kalau kita bicara PKH, kalau kita bicara sekolah rakyat dan sebagainya agar tetap selaras,” kata Ning Lia.
Friendy Sihotang menambahkan, pada tahun ini pemerintah juga mengembangkan sekolah lapang desa inklusif melalui Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD). Pendampingan sekolah lapang desa inklusif akan dilakukan di 448 desa, 56 kabupaten, 22 provinsi, baik wilayah tengah maupun timur, oleh NGO mitra.
“Desa inklusif ini membuka peluang bagi setiap warga desa terutama kelompok marjinal dan rentan termasuk perempuan untuk mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan desa,” katanya.
Dipaparkannya, peningkatan kapasitas perempuan melalui kegiatan sekolah lapang desa inklusif ini meliputi pelatihan public speaking perempuan, sosialisasi parenting dan pencegahan perkawinan anak, pelatihan partisipasi dalam forum desa dan kepemimpinan perempuan, pengenalan dan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, peningkatan kapasitas perempuan dalam UMKM, pelatihan PPRG, pemahaman keseimbangan gizi bagi keluarga dan anak melalui pelatihan Kebun Gizi bagi kelompok perempuan dan disabilitas, serta penguatan pemahaman pembangunan desa berbasis gender.(*/ady)










