Dapur MBG Blitar Garum Tawangsari II Jalankan Pengelolaan Sesuai Ketentuan

by -0 Views
Wartawan: M Adip Raharjo
Editor: Herry W. Sulaksono
Reza Pratistha (kanan) Kepala SPPG Blitar Garum Tawangsari II bersama pengawas keuangan Zulfa Amalia Chumaida (kiri)
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Blitar, seblang.com – Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Blitar Garum Tawangsari II mulai beroperasi sejak 9 Januari 2026. Hingga saat ini, dapur tersebut melayani 1.926 Kelompok Penerima Manfaat (KPM).

Kepala SPPG Blitar Garum Tawangsari II, Reza Pratistha, mengatakan jumlah tersebut merupakan hasil pemerataan dengan dapur lain di wilayah Kecamatan Garum.

“Awalnya kami sempat di angka 2.934 penerima. Namun, karena ada pemerataan antar dapur, sekarang menjadi 1.926,” ujarnya, Senin (20/4/2026), di SPPG Tawangsari II Garum.

Ia menjelaskan, pada awal pelaksanaan program, jumlah penerima tidak langsung maksimal karena mengikuti regulasi yang mengharuskan penambahan secara bertahap.

“Awal peluncuran sekitar 1.000 lebih, lalu bertahap menjadi 1.500, 1.700, hingga akhirnya mencapai 2.900-an,” jelasnya.

Dalam pengelolaan dapur, Reza membagi pengawasan ke dalam beberapa tim. Ia membentuk asisten lapangan (aslap) yang membawahi sejumlah divisi, seperti pencucian ompreng, kebersihan, keamanan, dan pengemasan.

Selain itu, terdapat tim persiapan, pengolahan, dan pemorsian yang juga melibatkan ahli gizi, serta admin untuk mendukung administrasi.

“Karena tidak bisa dipantau sendiri, pengawasan dibagi per divisi agar tetap berjalan optimal,” katanya.

Reza menambahkan, koordinasi dengan mitra berjalan baik dan setiap persoalan diselesaikan melalui pembahasan bersama.

Sementara itu, pengawas keuangan dapur, Zulfa Amalia Chumaida, menjelaskan pengelolaan anggaran dilakukan sesuai ketentuan dari pusat. Ia menyebut anggaran dibagi menjadi dua, yakni Rp15.000 untuk porsi besar dan Rp13.000 untuk porsi kecil.

“Untuk Rp15.000, Rp10.000 dialokasikan untuk bahan baku makanan, Rp3.000 untuk operasional seperti gaji dan listrik, serta Rp2.000 untuk insentif mitra,” jelasnya.

Sedangkan untuk Rp13.000, terdiri dari Rp8.000 bahan baku, Rp3.000 operasional, dan Rp2.000 insentif.

Zulfa mengatakan seluruh transaksi dilakukan melalui e-money agar tetap dalam satu sistem.

Dalam pelaksanaannya, bahan baku yang datang terlebih dahulu melalui proses pengecekan. Apabila terdapat ketidaksesuaian, bahan tersebut dikembalikan kepada pemasok untuk diganti.

“Setiap bahan yang digunakan dipastikan sesuai standar karena ada pengawasan dari tim, termasuk ahli gizi,” ungkapnya.

Ia juga menyebut, selama beberapa bulan terakhir terdapat tantangan berupa kenaikan harga bahan baku, khususnya sayuran, serta keterbatasan ketersediaan beberapa komoditas.

“Jika terjadi kenaikan harga, kami melakukan penyesuaian dengan memilih alternatif bahan yang tetap sesuai,” katanya.

Menanggapi informasi yang beredar di masyarakat, Reza mengimbau agar dilakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum disampaikan ke publik.

“Jika ada informasi, sebaiknya dilakukan cross-check ke dapur agar bisa kami evaluasi,” ujarnya.////////

iklan warung gazebo