Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera mengungkapkan realisasi program Bongkar Ratoon pada tahun sebelumnya menunjukkan perkembangan positif.
“Tahun 2025 lalu dari target 7.500 hektare bongkar ratoon, alhamdulillah sudah terealisasi sekitar 1.700 hektare. Sebagian besar CPCL atau Calon Petani dan Calon Lokasi berasal dari hasil pendataan teman-teman penyuluh,” katanya.
Untuk tahun 2026, lanjut Avicenna, target program tetap dipatok sebesar 7.500 hektare dengan potensi lahan yang sudah terdata mencapai sekitar 5.200 hektare.
“Tahun 2026 target kita tetap 7.500 hektare. Potensi indikatif yang sudah terkumpul kurang lebih 5.200 hektare. Saat ini yang sudah final dan ter-SK-kan sekitar 1.300 hektare, sedangkan 900 hektare lainnya masih dalam tahap ground checking dan pemenuhan administrasi,” jelasnya.
Ia optimistis target tersebut dapat tercapai karena dukungan dari sejumlah koperasi dan pabrik gula di Kabupaten Malang terus meningkat.
“Tahun ini kami bersyukur koperasi-koperasi di bawah dua pabrik gula, baik Kebon Agung maupun Krebet Baru, ikut bergabung dalam program Bongkar Ratoon. Dari dua PG ini diperkirakan bisa terkumpul sekitar 2.000 sampai 2.500 hektare tambahan,” ujarnya.
Avicenna bahkan menyebut produktivitas tebu di Kabupaten Malang berpotensi mengalami kenaikan signifikan apabila program berjalan optimal.
“Optimistis kami produktivitas bisa naik. Bahkan tadi bocorannya bisa mencapai angka 16,” tandasnya.
Hadir dalam kegiatan tanam perdana program Bongkar Ratoon ini, Kepala PG Krebet dan Kebun Agung, KH. Hamim Kholili serta Kepala Desa dan Kelompok tani.////////










