Banyuwangi memiliki Suku Osing sebagai salah satu kekuatan budaya lokal. Sementara Lebak memiliki masyarakat adat Baduy yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.
Secara geografis, keduanya juga sama-sama berada di ujung Pulau Jawa. Lebak berada di bagian barat, sedangkan Banyuwangi berada di ujung timur.
“Dengan kesamaan karakteristik ini, harapannya kami semakin mudah mengaplikasikan apa yang kami dapatkan dari Banyuwangi. Sehingga Lebak bisa semakin dikenal hingga kancah internasional,” ujarnya.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menjelaskan, pembangunan city branding Banyuwangi tidak dilakukan dengan sekadar membuat slogan atau identitas visual. Strateginya bertumpu pada kekuatan potensi lokal yang dikembangkan secara berkelanjutan.
Kekayaan alam, budaya, tradisi, hingga kreativitas masyarakat menjadi satu kesatuan dalam membangun citra Banyuwangi.
“Tentu tidak semua bisa diterapkan di daerah lain. Silakan Lebak merumuskan pendekatan branding yang sesuai dengan karakteristik dan keunggulan daerah,” kata Mujiono.
Rombongan Pemkab Lebak berada di Banyuwangi selama tiga hari, 5-7 November 2026. Selain mempelajari strategi city branding, mereka juga mengeksplorasi sejumlah destinasi wisata, melihat pembangunan infrastruktur, serta mempelajari ekosistem pendukung pariwisata Banyuwangi. (*)











