Pepatah tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi para santri untuk terus berusaha, berinovasi, dan berkarya demi memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Pesantren memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter bangsa. Di pesantren, ilmu diajarkan, akhlak dibentuk, kemandirian ditumbuhkan, dan pengabdian ditanamkan. Kekuatan inilah yang harus terus kita rawat dan kembangkan agar pesantren semakin berperan dalam menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh santri untuk menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjaga persatuan, merawat kerukunan, menggerakkan kemandirian ekonomi, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, nilai-nilai agama harus menjadi sumber inspirasi untuk menjaga kelestarian bumi, menebarkan kedamaian, dan membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
“Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita, karena Indonesia yang kuat hanya dapat dibangun melalui kebersamaan,” ucapnya.
Pemerintah Perkuat Peran Pesantren
Dalam sambutan yang dibacakan Abdillah Nasih, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, juga menyampaikan rasa syukur atas hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Direktorat Jenderal Pesantren merupakan unit eselon I yang secara khusus menangani pengembangan dan penguatan pesantren. Kehadirannya menjadi wujud komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian lebih besar kepada pesantren sekaligus memperkuat peran strategisnya dalam pembangunan nasional.
Menteri Agama berharap pesantren dapat semakin optimal menjalankan tiga fungsi utamanya, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui fungsi pendidikan, pesantren diharapkan melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. Melalui dakwah, pesantren menebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin serta memperkuat kerukunan dan persatuan bangsa.
Sementara itu, melalui pemberdayaan masyarakat, pesantren diharapkan mampu mendorong kemandirian, meningkatkan kesejahteraan, dan memberikan solusi bagi berbagai persoalan sosial.
Menteri Agama menegaskan bahwa Hari Santri bukan hanya milik kalangan santri, pesantren, atau umat Islam, melainkan seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan, menjunjung persatuan, dan mencintai tanah air.
Hal tersebut sejalan dengan ungkapan hubbul wathan minal iman, yang berarti cinta tanah air merupakan bagian dari iman.
“Maka mari kita jadikan peringatan Hari Santri ini sebagai momentum untuk memperkuat gotong royong dan melanjutkan perjuangan para ulama serta pahlawan dengan cara terbaik pada zaman kita,” ajaknya.
Di akhir sambutannya, Menteri Agama mengajak seluruh masyarakat mendoakan para ulama, santri, dan pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan serta keutuhan bangsa.
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal ibadah mereka, melimpahkan rahmat kepada mereka, serta membimbing kita untuk meneruskan cita-cita luhur perjuangan mereka,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat Hari Santri 2026 kepada seluruh santri dan keluarga besar pesantren di Indonesia.
“Teruslah menjaga tradisi, mengembangkan inovasi, memperkuat persaudaraan, dan mengabdikan diri untuk negeri. Jadilah santri yang menguatkan negeri menuju Indonesia Emas,” pungkasnya. (hst)












