PRB Banyuwangi Gelar Sosialisasi dan Edukasi Satuan Pendidikan Aman Bencana di SLB PGRI

by -23 Views
Wartawan: Nurhadi
Editor: Herry W. Sulaksono
Siswa SLB PGRI Banyuwangi melakukan simulasi bencana gempa bumi di dalam kelas saat sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Sabtu pagi (8/8/2026). Foto : Dok FPRB Banyuwangi
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Banyuwangi melakukan penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) inklusif di Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Banyuwangi, Sabtu (8/8/2026).

Puluhan siswa dan guru SLB PGRI Banyuwangi antusias mengikuti kegiatan tersebut. Program sosialisasi dan edukasi ini tidak hanya melibatkan relawan FPRB, tetapi juga didukung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi, Gerkatin, Rumah Zakat, dan Aura Lentera.

Dalam sesi paparan, narasumber dari BPBD Kabupaten Banyuwangi menyampaikan materi mengenai tanda-tanda bahaya, jalur evakuasi, serta prosedur penyelamatan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik simulasi bencana.

Siswa dan guru mempraktikkan posisi aman saat terjadi gempa bumi. Simulasi evakuasi mandiri juga dilakukan dengan melatih siswa keluar ruangan secara tertib.

Selanjutnya, peserta mengikuti simulasi evakuasi korban berupa praktik penggunaan tandu dan pemindahan korban menggunakan brankar. Salah satu simulasi yang mendapat perhatian adalah evakuasi siswa berkebutuhan khusus, termasuk pendampingan siswa pengguna kursi roda saat proses evakuasi.

“Setiap anak punya hak yang sama untuk aman dan selamat dari bencana,” ujar Abi Rizal, salah satu instruktur FPRB.

Ketua FPRB Kabupaten Banyuwangi, Mahbub Junaidi, mengatakan pembentukan dan penguatan SPAB di SLB PGRI Banyuwangi terus didorong FPRB bersama para mitra. Upaya tersebut dilakukan demi mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, siap, dan tangguh menghadapi bencana.

Penguatan dilakukan dengan membangun pemahaman dan keterampilan warga sekolah, khususnya dalam melakukan evakuasi mandiri, mengenali potensi bahaya, memahami jalur evakuasi dan titik kumpul, serta membangun budaya kesiapsiagaan yang dapat diterapkan oleh semua anak sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

“Inklusif berarti semua dilibatkan. Semua anak berhak mendapatkan perlindungan yang sama, tahu apa yang harus dilakukan saat bencana, dan memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri,” jelas Mahbub.

“Karena kesiapsiagaan bukan tentang siapa yang paling cepat berlari, tetapi tentang bagaimana setiap orang dapat memahami risiko, mengambil tindakan yang tepat, dan mencapai tempat aman,” imbuhnya.

Kegiatan sosialisasi SPAB ditutup dengan evaluasi dan motivasi agar seluruh warga sekolah semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana.

Hasil kegiatan menunjukkan siswa dan guru semakin memahami langkah-langkah penyelamatan diri serta pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.

” Sekolah merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya generasi penerus bangsa. Karena itu, membangun budaya aman bencana harus dimulai sejak dini melalui satuan pendidikan,” katanya.

Pendampingan SPAB tersebut merupakan wujud komitmen FPRB Banyuwangi dalam mendukung sekolah agar lebih siap, tangguh, dan mampu melindungi seluruh warga sekolah dari berbagai potensi bencana.

“Kami berharap SLB PGRI Banyuwangi menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk bersama-sama membangun budaya sadar bencana demi masa depan yang lebih aman,” pungkasnya.

Ket foto:
Dok. FPRB Banyuwangi

 

iklan warung gazebo