Mencari Jati Diri Banyuwangi Lewat Ijen

by -382 Views
Wartawan: Herry W. Sulaksono
Editor: Herry W. Sulaksono
Pemandangan Gunung Ijen (istimewa)
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Jika dalam perkara sebelumnya, Tim KAMI menuntut pembatalan Berita Acara Kesepakatan, namun kini materinya lebih fokus pada pengungkapan seputar tindakan Abuse Of Power atau penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Bupati Ipuk Fiestiandani serta hal-hal krusial lainnya.

Masalah mendasar dari perkara ini bukan masalah ekonomi atau pariwisata. Tetapi harga diri yang merasa diinjak-injak seenaknya. Toh wisatawan (jika pendemi sudah berlalu) akan tetap lewat Banyuwangi yang lebih babaik infrastrukturnya. Tetapi yang paling krusial adalah masalah harga diri. Jati diri sebagai wong Banyuwangi.

Seyogyanya daripada masalah ini berlarut-larut yang pada akhirnya merugikan masyarakat Banyuwangi, Bupati Ipuk segeralah melakukan dialog terbuka dengan rakyat Banyuwangi. Marilah mencari solusi bersama-sama agar masalah ini tidak melebar kemana-mana. Apalagi sampai terjadi penghentian arus wisatawan ke Ijen atau menyetop wisatawan ke Ijen lewat Bondowoso.

“Heroisme dan rohnya leluhur masyarakat Banyuwangi sudah jelas terintegrasi dalam lirik lagu Umbul-umbul Blambangan. Di antaranya adalah, sopo bain hang arep nyacak ngerusak, bakal sun belani, sun adepi lan sun labuhi (Siapa saja yang akan merusak, akan saya bela, saya hadapi dan saya lawan, red.). Oleh karenanya jika ada orang yang merasa sebagai bagian dari Banyuwangi, lantas hanya diam berpangku tangan seraya membiarkan terlepasnya 1/3 kawasan gunung Ijen ke Bondowoso, maka lebih baik mulai sekarang berhentilah mengaku sebagai orang Banyuwangi,” demikian kata Denny Sun’anuddin, seorang aktivis muda Banyuwangi. (..)

iklan warung gazebo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *