“Tahun ini kami mengusung tema Tandang Dewe dan Holopis Kuntul Baris. Artinya, dalam kondisi efisiensi anggaran, kami mengandalkan kekuatan sendiri dan bekerja bersama,” ujar Joko.
Festival Yosomulyo Menari dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi Ir. H. Mujiono, M.Si. Selanjutnya, ribuan penari dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga lanjut usia, tampil membawakan Tari Mrujuk dan Padang Bulan secara massal.
Wakil Bupati Banyuwangi mengapresiasi konsistensi Pemerintah Desa Yosomulyo bersama masyarakat dalam mempertahankan festival seni budaya tersebut.
Menurut mantan Sekda Kabupaten Banyuwangi tersebut, pelaksanaan kegiatan di tengah efisiensi anggaran menunjukkan kuatnya modal sosial masyarakat desa melalui sinergitas, kolaborasi, kerja sama, dan gotong royong.
“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Anak-anak sampai orang tua ikut ambil bagian. Ini menunjukkan bahwa kebersamaan masyarakat menjadi kekuatan dalam menjaga kegiatan budaya,” kata Mujiono.

Selain pertunjukan seni budaya, Festival Yosomulyo Menari 2026 juga melibatkan puluhan pelaku UMKM lokal. Kehadiran UMKM tersebut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang promosi produk-produk lokal.
Mujiono menuturkan, kehadiran wisatawan asing asal Belanda yang menyaksikan langsung pertunjukan turut menambah daya tarik Festival Yosomulyo Menari 2026.
Kehadiran wisatawan mancanegara tersebut menunjukkan bahwa kegiatan budaya di tingkat desa dapat menarik perhatian pengunjung dari luar negeri.
Dua wisatawan asal Belanda, Esmee dan Lyann, tertarik dan larut dalam kemeriahan Yosomulyo Menari 2026. Keduanya menyaksikan langsung pertunjukan dari Lapangan Desa Yosomulyo.
Kehadiran keduanya mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan menjadi bagian dari pengalaman lintas budaya dalam festival tersebut.
Bagi masyarakat Yosomulyo, festival yang digelar bukan sekadar pertunjukan seni tari. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan dan dialog lintas generasi, sekaligus menjadi upaya merawat warisan adat istiadat dan seni budaya serta memperkuat identitas desa.
Hampir seribu penari yang memenuhi lapangan menjadi gambaran kuatnya dukungan dan partisipasi aktif masyarakat dalam mempertahankan kegiatan seni budaya di tengah efisiensi anggaran.
Melalui swadaya, kolaborasi, dan semangat Holopis Kuntul Baris, masyarakat Yosomulyo menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan menjaga seni budaya desa.
Kehadiran Esmee dan Lyann juga menjadi warna tersendiri dalam Yosomulyo Menari 2026. Masyarakat Yosomulyo menyampaikan terima kasih atas kunjungan keduanya yang telah meluangkan waktu untuk menyaksikan langsung pertunjukan budaya tersebut.
Kunjungan wisatawan asal Belanda itu sekaligus menjadi bukti bahwa panggung budaya di desa dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan seni, tradisi, dan kebersamaan lintas negara.
Bagi tokoh dan warga Desa Yosomulyo, kehadiran mereka diharapkan meninggalkan kesan baik selama menikmati seni budaya, kuliner, keramahan masyarakat, serta keindahan suasana desa yang alami di Banyuwangi.///////////










