Sebagai contoh, katanya, flare satu penonton diikuti oleh yang lain, bahkan dari flare menjadi pelemparan botol dan seterusnya. “Perbuatan itu kecil terjadi jika dilakukan sendirian, namun dalam tragedi Kanjuruhan massive karena collective mind,” sebutnya.
Menurutnya, individu yang berada di dalam kelompok bersifat mudah tersugesti/provokasi, mereka berani melakukan apapun karena anonim atau kehilangan identitas.
Dalam perubahan individu yang masuk dalam kelompok karena colletive mind, sugestable, serta anonim yang menimbulkan sikap bermacam macam (destruktif dll). Berpendapat apakah bisa diterapkan hukum pidana baik untuk aparat Kepolisian, hingga penonton.
“Berpendapat pemberitaan haruslah berimbang, karena tidak bisa hanya aparat kepolisian yang disalahkan, atau justru hanya penonton. Karena tidak semua penonton melakukan pelemparan dll,” jelasnya.
Oleh karenanya, lanjutnya, menyoroti stimulan sebab akibat, sebelum terjadi tragedi maka perlu mendalami siapa penyebab awal terjadinya kerusuhan. “Sehingga memicu sikap agressive-represive yang berujung chaos dan tragedi kematian massal,” tandasnya.////










