Menariknya, bahan pewarna tidak hanya berasal dari tanaman yang sengaja dibudidayakan. Limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak berguna justru diolah menjadi bahan bernilai ekonomi.
“Kami berinovasi mengubah limbah yang awalnya tidak berguna atau dibuang begitu saja menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, yaitu batik dengan pewarna alami dari limbah pertanian,” katanya.
Salah satu inovasi tersebut adalah pemanfaatan sabut kelapa sebagai pewarna batik. Bahan yang mudah dijumpai dan kerap terbuang itu kini menjadi bagian dari proses kreatif menghasilkan batik tulis khas Lamongan.
Tidak hanya mengandalkan warna alami, Sanggar Batik Mbah Guru juga mempertahankan identitas budaya daerah melalui motif yang terinspirasi dari bunga melati dan bunga tanjung.
Endang bahkan terus mempelajari perkembangan selera pasar internasional agar batik tulis Lamongan mampu menembus pasar lebih luas tanpa kehilangan jati dirinya.
Melihat berbagai inovasi tersebut, Ning Lia berharap Sanggar Batik Mbah Guru tidak hanya dikenal sebagai tempat produksi batik, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi dan pusat ekonomi kreatif masyarakat.
Menurutnya, kekayaan budaya seperti ini harus semakin dikenal masyarakat luas, termasuk wisatawan yang datang ke Jawa Timur.
Ning Lia pun menyampaikan ajakan khusus kepada wisatawan agar tidak melewatkan kesempatan berkunjung dan menyaksikan sendiri keindahan batik tulis khas Lamongan.
“Kalau ke Jawa Timur, rasanya rugi sekali kalau tidak mampir ke Lamongan, lebih tepatnya ke Sanggar Batik Mbah Guru. Batik tulis asli Lamongan ini sangat bagus,” pungkasnya(*/ady)












