Menurut Khofifah, mangrove memiliki peran penting dalam mencegah abrasi, menjaga keanekaragaman hayati, menyerap karbon, sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu juga mengingatkan bahwa gerakan penanaman mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Upaya tersebut harus dilanjutkan dengan perawatan dan pengembangan kawasan secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Jumadi, melaporkan bahwa luas kawasan mangrove di Jawa Timur meningkat dari 27.221 hektare pada 2021 menjadi 31.067 hektare pada 2025. Artinya, terjadi penambahan luasan mencapai 3.846 hektare dalam kurun waktu empat tahun.
“Tutupan mangrove di Jawa Timur merupakan yang paling tinggi se-Jawa, menyamai hampir 50 persen dari total luasan regional,” ungkap Jumadi.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Mayjen TNI Dr. Sriyanto, turut memperkenalkan Sagara atau Sistem Informasi Gambut dan Mangrove Nusantara. Platform digital tersebut diharapkan dapat memperkuat pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove di Indonesia.
Festival Mangrove Jatim XI juga dihadiri Wali Kota Probolinggo Aminuddin, Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari, Bupati Probolinggo Mohamad Haris, serta vokalis grup band Slank, Kaka.
Bagi Ning Lia, capaian Rekor MURI tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi daerah lain untuk memperluas gerakan pelestarian mangrove. Semangat sedekah oksigen yang digaungkan Khofifah juga diharapkan tumbuh menjadi budaya kepedulian terhadap lingkungan, khususnya di kalangan generasi muda. (*/ady)











