Langkah pertama ialah mengintegrasikan Program SIKAP ke dalam Kurikulum Merdeka dan skema Teaching Factory, sehingga aktivitas produktif siswa tidak lagi bersifat proyek musiman, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran rutin berbasis industri.
Kedua, sekolah akan memaksimalkan status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) agar hasil produksi siswa, baik dari sektor pertanian, peternakan, maupun olahan pangan, dapat terserap pasar serta menjalin kemitraan dengan industri lokal.
Sementara langkah ketiga ialah meningkatkan kapasitas tenaga pendidik melalui pelatihan teknologi dan penguatan adaptasi terhadap fasilitas baru hasil revitalisasi.
Ning Fadillah menilai tantangan SMK saat ini bukan sekadar mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga membangun generasi pencipta lapangan kerja baru, khususnya di sektor agribisnis.
Menurutnya, konsep agripreneur muda yang berkarakter menjadi target utama pengembangan pendidikan di SMKN 1 Tulungagung.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang memiliki mental tangguh. Seperti yang disampaikan Ibu Gubernur, mental seorang penanam yang menghargai proses, tekun, dan inovatif. Dengan dukungan penuh dari Cabdindik, kami optimistis SMKN 1 Tulungagung akan menjadi kiblat pendidikan vokasi agribisnis di Jawa Timur,” pungkasnya.










