Dia mengajak masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai bekal memasuki pasar kerja, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Banyuwangi turun dari 4,03% menjadi 3,94% pada 2025.
Namun, menurutnya, angka tersebut tidak cukup menjadi satu-satunya ukuran untuk melihat kondisi ketenagakerjaan daerah.
“Penurunan pengangguran itu tidak cukup dibaca sebagai keberhasilan penciptaan pekerjaan saja. Akan tetapi, kita juga harus memperhatikan partisipasi angkatan kerja, kualitas pekerjaan, produktivitas, tingkat pendapatan, dan jumlah penduduk usia kerja yang tidak aktif dalam pasar kerja,” tutur Mujiono.
Kepala BPVP Banyuwangi Susanto mengatakan pelatihan vokasi yang dibuka tersebut diikuti 284 peserta. Bidang pelatihan meliputi pariwisata, pengelasan, barista, pengolahan pangan hingga pertanian hidroponik.
Sepanjang 2026, sebanyak 1.720 alumni BPVP Banyuwangi telah terserap ke dunia kerja. Mereka bekerja di sektor industri maupun memilih jalur wirausaha mandiri.
Sementara untuk program Magang Jepang bersama IM Japan, tahun ini merupakan tahun kedua pelaksanaan. Pada 2025 terdapat sekitar 100 pendaftar dan 95 orang lolos ke tahap seleksi awal.
Pada 2026, sebanyak 250 orang mendaftar. Setelah melalui proses penyaringan, jumlah peserta yang tersisa sebanyak 84 orang.
“Banyuwangi ini menjadi pusat diklat fase pertama, sebelum nantinya para peserta melanjutkan ke diklat fase kedua di pusat pelatihan IM Japan di Bekasi. Jadi, dua bulan mereka kita godok di sini. Dua bulan berikutnya di Bekasi. Setelahnya dikirim ke Jepang,” kata Susanto.
Salah satu peserta program Magang IM Japan asal Banyuwangi, Mohammad Yahya Kamelasan, mengatakan dirinya telah menjalani pelatihan selama satu bulan di BPVP Muncar.
“Jadi kurang satu bulan lagi sebelum lanjut diklat di pusat. Di sini kami belajar penguasaan bahasa Jepang, tentang budayanya, hingga kedisiplinan,” kata Yahya.///////










