Banyuwangi, seblang.com – Festival kuliner tradisional “Janda Reni” di Desa Banjar, Kecamatan Licin, tidak sekadar menjadi ajang pelestarian budaya. Lebih dari itu, event ini mulai menunjukkan peran strategis dalam mengangkat potensi ekonomi dan pariwisata lokal di kawasan lereng Gunung Ijen.
Masuk dalam kalender Banyuwangi Festival (Banyuwangi Attraction) 2026, “Janda Reni” menjadi magnet yang mampu menarik wisatawan sekaligus membuka ruang ekonomi bagi warga. Sepanjang jalan desa, puluhan warga terlibat langsung menjajakan sego lemeng dan kopi uthek, menciptakan perputaran ekonomi berbasis komunitas.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa penguatan sektor pariwisata berbasis budaya menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
“Event seperti ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Wisatawan datang, warga mendapatkan manfaat langsung dari aktivitas ekonomi yang tercipta,” ujar Ipuk, Minggu (19/4/2026).
Potensi yang muncul tidak hanya dari sisi kuliner. Festival ini juga menggerakkan sektor lain, mulai dari homestay, transportasi lokal, hingga penjualan produk UMKM seperti gula aren, kopi lokal, dan kerajinan khas Osing. Dengan demikian, dampak ekonomi yang dihasilkan bersifat berantai.
Tokoh adat Desa Banjar, Lukman Hakim, menyebut pengemasan tradisi dalam bentuk festival membuat nilai budaya semakin dikenal luas, sekaligus meningkatkan daya tarik desa sebagai destinasi wisata.










