Selama berada di lokasi, para delegasi meninjau fasilitas yang dimiliki KNMP, mulai dari dermaga sandar perahu, lokasi pendaratan ikan, pabrik es, unit pengolahan hasil laut, workshop nelayan, hingga sentra kuliner. Mereka juga berbincang dengan pelaku UMKM dan mencicipi aneka olahan hasil laut produksi masyarakat setempat.
Kekaguman juga datang dari delegasi Kedutaan Besar Fiji bidang Economy & Political, Leone Bainivanua. Ia menilai konsep yang dikembangkan Banyuwangi sangat relevan diterapkan di negaranya yang sama-sama dikelilingi laut.
“Tempat ini sangat bagus, di Fiji belum ada yang seperti ini. Kami terinspirasi untuk mengembangkan yang sama di negara kami karena wilayahnya juga dikelilingi lautan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Counsellor Malaysia Mission to ASEAN, Faezatun Azirah Binti Yahaya. Ia menyebut pengembangan komunitas nelayan di Banyuwangi dapat menjadi contoh bagi negaranya.
“Apa yang dilaksanakan di sini akan menjadi referensi untuk dikembangkan di negara kami,” katanya.
Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, menjelaskan kawasan KNMP Lateng dibangun berdasarkan potensi lokal dengan mengusung konsep hilirisasi berbasis pariwisata. Sebelum ditata, kawasan tersebut hanya dipenuhi tenda-tenda sederhana milik warga.
“Adanya KNMP membawa berkah, khususnya bagi ibu-ibu istri nelayan dan warga lokal karena tempat ini semakin menarik menjadi destinasi wisata kuliner. Kami juga terus memberikan pendampingan dan penyuluhan agar mereka bisa memberikan pelayanan yang memadai bagi pengunjung yang datang,” kata Suryono.
Kini, KNMP Lateng tak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi etalase keberhasilan Banyuwangi dalam menggabungkan sektor perikanan, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat. Tak heran jika kawasan yang masuk program prioritas nasional itu mulai dilirik dunia sebagai model pengembangan ekonomi biru berbasis komunitas.////////









