Rita menyebutkan, perkembangan penyakit pernapasan lainnya juga menjadi perhatian. Kasus influenza-like illness (ILI) mencapai 224 kasus pada minggu ke-37, meningkat dari 151 kasus pada minggu ke-34. Adapun pneumonia mengalami kenaikan dari 104 menjadi 342 kasus dalam periode yang sama.
Meski jumlah kasus terus bertambah, Dinkes menyatakan pola kenaikan masih berlangsung secara bertahap dan belum mengarah pada kejadian luar biasa (KLB).
Perubahan lingkungan selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan penyakit pernapasan. Kondisi tersebut meliputi suhu yang meningkat, angin, debu, asap pembakaran, dan polusi udara.
Dinkes juga menyoroti kelompok balita karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan cuaca belum optimal. Pada anak-anak dan balita yang menjalani perawatan, kondisi seperti demam dan dehidrasi menjadi perhatian.
Untuk mengantisipasi perkembangan kasus, Dinkes memperkuat pengawasan melalui surveilans di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Pencatatan dan pelaporan juga dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Fasilitas kesehatan diminta memperkuat proses triase serta mempercepat penanganan dan rujukan terhadap pasien yang mengalami tanda bahaya atau gejala berat.
Rita memastikan hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat ISPA di Kabupaten Jember. Masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang semakin berat atau tidak kunjung membaik.
Selain itu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker saat batuk atau pilek, menghindari paparan asap rokok dan polusi, serta memastikan ventilasi dan sirkulasi udara di rumah maupun tempat kerja berjalan dengan baik.///////












