Dalam proyek CanSat Competition 2026, Adam berperan mengembangkan perangkat lunak Ground Control Station (GCS), sistem komunikasi data, serta riset antena yang menjadi bagian penting dalam misi satelit mini yang dikembangkan tim.
Perjuangan menuju kompetisi dunia berlangsung hampir setahun. Mulai dari penyusunan desain, penulisan paper teknis, presentasi rancangan, pengujian sistem, hingga pelaksanaan final di Virginia, Amerika Serikat.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tim Bamantara EEPISAT berhasil menembus tiga besar dunia dan membawa nama Indonesia sejajar dengan tim-tim terbaik dari berbagai negara.
“Alhamdulillah seluruh proses tersebut berbuah hasil dengan diraihnya Juara 3 Dunia. Saya bersyukur karena perjalanan yang dimulai dari ketertarikan pada teknologi, termasuk melalui program Jagoan Digital Banyuwangi, dapat mengantarkan saya hingga mewakili Indonesia di kompetisi internasional dan membawa nama Indonesia di tingkat dunia,” kata Adam.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut prestasi Adam menjadi bukti bahwa investasi daerah dalam pengembangan sumber daya manusia mampu menghasilkan capaian nyata.
“Kami semua sangat bangga tentunya dengan talenta berbakat seperti Adam Kandias. Ini bisa menjadi inspirasi anak muda lain untuk berprestasi di berbagai sektor,” ujar Ipuk.
Prestasi Adam sekaligus menjadi kabar baik bagi Banyuwangi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, seorang pemuda asal daerah berhasil menunjukkan bahwa mimpi menembus panggung dunia bukanlah hal yang mustahil. Berawal dari ruang pelatihan Jagoan Digital, berakhir di podium kompetisi satelit mini internasional yang didukung NASA. (*)










