“Kadang kita berpikir membantu itu harus dengan sesuatu yang besar. Padahal, memberikan sesuatu yang sederhana tetapi memang dibutuhkan masyarakat juga merupakan bentuk kepedulian,” ujarnya.
Ning Lia mengapresiasi inisiatif para pemuda yang menggabungkan aksi berbagi dengan edukasi kesehatan. Ia menilai kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk membangun kepedulian sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan, mulai dari kecamatan, kelurahan, Karang Taruna, komunitas pemuda, hingga warga.
“Terima kasih kepada Pak Camat, Bu Lurah, teman-teman Karang Taruna dan semuanya yang ada di Kutisari. Semuanya kompak,” tutur perempuan yang pernah menjadi Putri NU tersebut.
Menurutnya, kekompakan warga menjadi modal penting dalam menjaga semangat gotong royong di lingkungan masyarakat. Semangat tersebut juga sejalan dengan nilai kebersamaan yang terus dikembangkan di berbagai kampung di Surabaya.
“Bagaimana pun situasinya, warga harus selalu kompak,” katanya.
Sementara itu, Ketua GAS-Pemuda Surabaya Charly Haryono Teguh mengatakan kegiatan sosial menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kepedulian anak muda terhadap masyarakat di sekitarnya.
Menurut dia, kolaborasi antara pemuda, warga, dan unsur pemerintahan penting agar gerakan sosial tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat terus tumbuh dari lingkungan terdekat.
“Kegiatan tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa gerakan sosial dapat dimulai dari langkah sederhana. Semoga bisa memberi manfaat dan barokah,” harapnya. (*/ady)










