Founder Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy, menjelaskan PKBM NUN dirancang agar warga yang telah mengikuti program keaksaraan tidak berhenti belajar setelah menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis.
Nama NUN diambil dari huruf Nun dalam bahasa Arab. Nama itu memiliki filosofi sebagai wadah ilmu pengetahuan, tempat seseorang menampung dan mengembangkan pengetahuan.
“Filosofi ini juga berkaitan dengan pena sebagai simbol literasi, ilmu pengetahuan, dan pencatatan perjalanan kehidupan manusia,” kata Widie.
Dari sasaran peserta program, sekitar 80 persen merupakan perempuan, khususnya ibu-ibu. Selebihnya adalah laki-laki dan anak-anak yang rentan putus sekolah.
“Program ini merupakan buah kerja keras dan gotong royong masyarakat,” ujarnya.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengapresiasi semangat warga Kampung Papring yang tetap berupaya mendapatkan pendidikan. Perhatian terhadap kelompok rentan tersebut juga sejalan dengan program Teman Lansia yang diluncurkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi semangat warga kampung ini,” kata Mujiono.////












